MAKATI, Filipina (UCAN) – Dalam sebuah konferensi liturgi baru-baru ini, para pekerja Gereja mengatakan bahwa mereka ingin menolong lebih banyak orang untuk menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Terlalu banyak umat Katolik meninggal tanpa menerima sakramen ini karena mereka mengira bahwa sakramen itu hanya untuk orang yang mendekati ajal sebagai sebuah upacara pengampunan, kata Pastor Anscar Chupungco OCD dalam konferensi liturgi 21-23 April 2009.
Sekretaris eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Filipina itu berbicara tentang sejarah dan teologi sakramen itu. Katekese yang lebih baik tentang pelayanan pastoral orang sakit dibutuhkan, katanya kepada sekitar 200 religius dan petugas pastoral awam dari 33 keuskupan.
Pelayan Bidang Liturgi Keuskupan Agung Manila, bersama dengan Institut Liturgi Paulus VI dari Universitas San Beda di Manila, yang dikelola para Pastor Benediktin, bersama mensponsori konferensi itu. Tema konferensi itu adalah “Pelayanan Pastoral Orang Sakit.” Konferensi itu berlangsung di Seminari Tinggi San Carlos di keuskupan agung itu.
Pastor Chupungco mencatat bahwa banyak umat Katolik tidak sadar bahwa Sakramen Pengurapan Orang Sakit dimaksud untuk membantu iman dan menghilangkan kegelisahan dari mereka yang sakit, demikian ajaran Konsili Vatikan II (1962-1965). “Orang yang diurapi tahu bahwa ia tidak sendirian, tetapi bersama Yesus yang hadir,” jelasnya.
Pada Abad Pertengahan di Eropa, tambahnya, banyak orang menghindari sakramen ini sehingga makna asli sakramen ini yaitu penyembuhan orang sakit menjadi hilang, dan hanya dipahami sebagai sakramen pengampunan sebelum kematian, katanya.
Sakramen yang sebelum Konsili Vatikan Kedua dikenal sebagai Sakramen Pengurapan Terakhir itu terdiri dari pengurapan dahi dan tangan orang sakit oleh imam dengan minyak yang telah diberkati uskup. Pengurapan itu dilakukan bersamaan dengan sebuah doa.
Para peserta pertemuan itu berkomentar bahwa kekurangan imam merupakan faktor mengapa banyak umat Katolik tidak menerima sakramen itu, dan mengapa banyak orang tidak menerima katekese yang baik tentang sakramen itu.
Pastor Chupungco kemudian menyampaikan kemungkinan mengijinkan orang awam untuk menjadi pelayan sakramen itu, karena Sakramen Pengakuan Dosa bukan bagian dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Menurut hukum Gereja, hanya imam dan uskup bisa memberi Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Pastor Chupungco mengatakan kepada UCA News bahwa “para pimpinan komunitas dan penatua di masa St. Yakobus Rasul mengurapi, mendoakan, dan menumpangkan tangan di atas orang sakit,” dan dari Surat Yakobus dalam Perjanjian Baru itulah sakramen ini dimunculkan.
Pastor Genaro Diwa, direktur liturgi Keuskupan Agung Manila, sependapat bahwa dengan melibatkan para pelayan awam dalam pelayanan sakramen ini akan memudahkan beban para imam. “Ini praktis dan mungkin untuk mengangkat para pelayan khusus untuk pengurapan dan penumpangan tangan, namun terserah pada keputusan Roma,” kata pakar liturgi itu dalam sebuah wawancara.
Prodiakon Carlos Melendez dari Tagum, Filipina selatan, mengatakan pastor dari parokinya yaitu Paroki Katedral Kristus Raja mengirim sekelompok pelayan awam untuk mengikuti konferensi itu untuk menyiapkan pelayanan orang sakit di dua rumah sakit di paroki itu.
“Ia menghendaki agar kami melayani lebih banyak orang sakit selain membawa Komuni untuk mereka,” kata Melendez.
Kelompok prodiakon yang datang bersama Melendez itu mengatakan, mereka akan membantu para imam dalam tugas katekese dan pelayanan Sakramen Pengurapan Orang Sakit di keuskupan mereka, selain memberi Komuni kepada orang sakit dan memimpin doa bagi yang meninggal sebelum dimakamkan.