HETTIPOLA, SRI LANKA (UCAN) – Sebuah paroki menyelenggarakan sebuah perayaan tahun baru Hindu dan Buddha baru-baru ini. Perayaan itu dimaksudkan untuk meningkatkan kerukunan agama di kalangan warga desa.
“Ini tidak biasa bahwa perayaan-perayaan Hindu-Buddha diselenggarakan di pekarangan sebuah gereja,” kata Yang Mulia Akurana Gunerathne Thero, setelah menyalakan sebuah lampu minyak dalam upacara yang diselenggarakan di Paroki Hati Kudus di Hettipola, sebuah desa yang kebanyakan umatnya beragama Buddha di Keuskupan Kurunegala.
Acara bersama seperti ini turut meningkatkan persatuan di negeri ini, lanjut biksu utama dari Kuil Girathalana setempat.
Komunitas mayoritas Buddha etnis Sinhala dan komunitas minoritas Hindu etnis Tamil di Sri Lanka merayakan perayaan-perayaan tahun baru mereka pada 13 dan 14 April tahun ini.
Sekitar 400 warga desa, termasuk Katolik, Buddha, dan sejumlah kecil Hindu dari desa-desa tetangga, ikut dalam perayaan di gereja yang diatur oleh 11 katekis paroki itu.
Kepala paroki, Pastor A. Ancelet, dan para kepala desa menerima Yang Mulia Gunerathne, tamu kehormatan.
Perayaan yang berlangsung dari pagi hingga malam itu dihadiri oleh orang muda dan orang tua dari berbagai agama. Mereka mengenakan busana berwarna warni dan ikut berbagai permainan. Permainan-permainan itu, antara lain, balap sepeda, lomba makan krupuk, panjat pinang.
Rohini Abeywardane, seorang gadis beragama Buddha yang memenangkan lomba makan krupuk, mengatakan bahwa “ini tidak biasa” melihat warga desa dari berbagai agama “berkumpul di gereja, dengan salib-salib, para imam, dan para suster.”
Pastor Ancelet menyalami para pemenang perlombaan, dengan mengatakan bahwa mereka memperlihatkan “kekuatan dari saling pengertian dan penghormatan satu sama lain.”
Para peserta juga menikmati makanan yang dipersiapkan khusus untuk acara pesta itu.
Menurut Pastor Ancelet, perayaan yang diselenggarakan paroki itu merupakan bagian dari upaya Gereja Katolik Sri Lanka dalam ikut mempersatukan berbagai komunitas.
Sekitar 70 persen dari 20 juta penduduk Sri Lanka itu beragama Buddha, 14 persen Hindu, 9 persen Kristen, dan 7 persen Muslim.
Nilosika Fernando, seorang katekis, mengatakan, “Ini merupakan sebuah pengalaman baru untuk anak-anak kita saat mereka berbaur dengan penganut agama-agama lain dalam sebuah perayaan seperti ini.” Menurut perempuan katekis itu, negeri ini banyak menyaksikan kekerasan berbias agama. Pada 5 April, Minggu Palma, sebuah gereja Methodis di pinggiran Colombo diserang oleh orang-orang yang tak dikenal.
Sekarang ini, pemerintah pimpinan etnis Sinhala sedang menyerang kubu terakhir kelompok Pembebasan Macan Eelam Tamil (LTTE, Liberation Tigers of Tamil Eelam). LTTE, yang ingin membentuk sebuah negara terpisah di bagian utara dan timur Sri Lanka, melancarkan perjuangan kemerdekaan melawan pemerintah pimpinan etnis Sinhala tahun 1983. Konflik yang berlangsung hingga kini itu telah merenggut sekitar 80.000 jiwa.
Yang Mulia Gunerathne mengatakan kepada UCA News, acara-acara lintas agama seperti itu perlu untuk menciptakan kerukunan agama. “Orangtua hendaknya mendidik anak-anak untuk menghormati agama dan etnis lain,” tegasnya.
Warga desa di Hettipola umumnya pengolah lahan kering untuk menanam padi dan jagung. Dalam tahun baru Hindu dan Buddha tahun ini, kebanyakan warga kota mudik ke keluarga leluhurnya untuk mendapatkan berkat dari anggota-anggota keluarga yang senior.