BANGKOK (UCAN) — Suster Joan Evas, seorang misionaris Australia, menetap di Rong Moo (rumah pembantaian), sebuah komunitas kumuh di wilayah Klong Toey yang padat penduduk di Bangkok. Setiap hari, ia keluar berjalan kaki, mengunjungi, dan memberikan bantuan kepada warga di sini, khususnya anak-anak dan orang lanjut usia (lansia). “Kadang-kadang, bahkan larut malam, saya harus membawa orang ke rumah sakit,” katanya.
Biarawati dari Tarekat Presentation of the Blessed Virgin Mary (Penampakan Santa Perawan Maria) itu telah berkarya di tempat kumuh itu sejak 1992, setelah ia pensiun dari mengajar di Australia. Kini dalam usianya ke-70-an, ia tinggal sendiri di sebuah rumah kayu sederhana yang disewanya di wilayah itu.
Paman Pia, 67, adalah satu dari banyak warga di komunitas itu yang dibantu Suster Evans. Ia telah melakukan operasi otak beberapa bulan yang lalu setelah mengalami suatu kecelakaan ketika sedang bekerja di sebuah pabrik. Biarawati itu biasanya membawanya popok-popok orang dewasa karena ia menderita gangguan buang air kecil di luar kontrol. Ia juga menindaklanjuti pengobatan Paman Pia.
Paman Pia kini tidak bisa bicara. Ia juga tidak bisa menggerakan bagian kiri badannya. Dia hanya bisa mendengar dan mengangguk. Operasi itu meninggalkan bekas luka di sebelah kiri kepalanya, dan ia sering kelihatan berpikiran kosong.
Banyak anak pemulung menikmati manfaat pelayanan tunggal Suster Evan itu. “Kebanyakan dari orangtua mereka adalah buruh. Kadang-kadang mereka hanya bisa menyekolahkan satu dari anak-anak mereka,” katanya. Maka dia membantu anak-anak itu dengan membayar biaya sekolahnya dan menyediakan pakaian seragam, kaos kaki, sepatu, tas, dan buku. “Tahun lalu, saya membiayai pakaian seragam untuk 600 orang,” katanya. Dia juga membayar biaya transportasi mereka ke sekolah serta biaya sarapan pagi dan makan siang. “Jika perut mereka keroncong, mereka tidak bisa belajar,” katanya.
“Anak-anak dan orang muda ini perlu dibantu sehingga mereka bisa membantu dirinya sendiri,” kata biarawati itu, sambil mencatat bahwa sejumlah anak daerah kumuh tidak tinggal bersama orangtuanya. Satu atau kedua orangtua mungkin di penjara atau sudah meninggal dunia. Orangtua juga mungkin sudah bercerai. Beberapa anak tinggal dengan opa oma mereka.
Suster Evans juga meluncurkan sebuah proyek untuk memberi susu kepada anak-anak dua kali sebulan. Staf dari Kedutaan Australia di Thailand dan kedutaan asing lain mendukungnya dalam proyek ini.
Biarawati itu adalah seorang guru sekolah menengah pertama di Australia Bagian Barat hingga ia pensiun tahun 1990, demikian website-nya (http://www.sisterjoan.info/). Setelah pensiun, ia belajar bahasa Thailand selama delapan bulan sebelum pindah ke Klong Toey.