HUE, Vietnam (UCAN) – Suster-suster yang tinggal di wilayah pegunungan di Vietnam tengah mengatakan, mereka berusaha meyakinkan kebanyakan warga desa di sini untuk meninggalkan kebiasaan mereka untuk menelantarkan jenazah di alam terbuka ketimbang memakamkannya.
Suster Anna Tran Thi Hien dari Tarekat Pencinta Salib Suci mengatakan bahwa warga suku Van Kieu di pegunungan biasa membungkus jenazah dengan kain atau tikar yang dianyam dari bambu dan meletakkannya di lembah jauh dari rumah pada saat matahari terbenam.
Kemudian mereka dengan cepat berlari pulang karena takut bahwa arwah dari yang meninggal itu akan membuntuti mereka.
Suster Hien, 56, pemimpin komunitasnya di Kota Dong Ha, Propinsi Quang Tri, mengatakan bahwa warga etnis Van Kieu itu sangat takut akan orang mati. Mereka bahkan akan meninggalkan orang-orang yang mereka cintai di rumah sakit jika orang-orang yang mereka cintai itu meninggal dunia di sana. Etnis Van Kieu itu umumnya memiliki sistem keyakinan animis dan percaya bahwa roh-roh itu tinggal di gunung, pohon, dan sungai, kata suster itu.
Bersama suster-suster lain di komunitasnya yang beranggotakan lima orang, dia mengajari masyarakat setempat bagaimana membuat peti jenazah dan menggali liang lahat untuk pemakaman. Para suster itu juga mengajari umat Katolik setempat bahwa manusia itu diciptakan menurut rupa dan citra Allah dan bahwa jenazah mereka akan bangkit kembali pada Hari Pengadilan Terakhir, sehingga umat Katolik harus menghormati jenazah orang yang meninggal.
Kebanyakan umat Katolik setempat telah meninggalkan kebiasaan menangani jenazah secara tradisional, kata Suster Hien, dan kini mereka berdoa dalam keluarga bagi mereka yang wafat sebelum dikebumikan di hutan.
Masyarakat etnis Van Kieu tidak memiliki tempat pemakaman khusus.
Namun, mengajar masyarakat untuk memakamkan jenazah dan mendorong umat Katolik untuk mengikuti tata cara pemakaman Katolik itu bukanlah suatu tugas mudah bagi para suster.
Pemerintah Vietnam pernah menahan para suster karena para dukun setempat menuduh para suster mendesak masyarakat setempat untuk meninggalkan adat istiadat mereka. Biasanya, dukun-dukun ini diberi ayam atau kerbau untuk melaksanakan upacara penanganan jenazah secara tradisional itu. Para suster baru dibebaskan setelah mendapatkan dukungan dari warga desa setempat yang sudah menjadi Katolik.
Suster Hien mengatakan, banyak warga desa meninggalkan kepercayaan tradisionalnya setelah menjadi Katolik.
Joseph Ho A Rai, seorang warga setempat yang sudah Katolik, mengatakan bahwa tata cara pemakaman Gereja itu sehat dan menunjukkan kemajuan dari segi lingkungan hidup, selain memberi manfaat spiritualnya. Pemakaman Kristen turut mencegah warga desa dari penyakit akibat membusuknya jenazah-jenazah yang tergeletak di hutan, katanya. Tata upacara Gereja juga membuat masyarakat “menghormati tubuh manusia,” lanjutnya.
Marie Ho Thi Ling, 82, yang menjadi Katolik tahun 2000, bercerita bagaimana warga desa meninggalkan jenazah suaminya yang meninggal karena tuberkolosis, karena mereka takut akan arwahnya. “Kini mereka tidak lagi menjalankan praktek-praktek ini,” katanya.
Suster Hien yang juga seorang dokter mengatakan bahwa dia dan suster-suster lain mengadakan perjalanan bahkan sampai 70 kilometer dengan sepeda motor untuk tetap memelihara kontak dengan sebuah jaringan dari 16 desa warga suku.
Misi mereka adalah menyediakan makanan, perawatan kesehatan, keterampilan praktis, dan pendidikan dasar bagi 200 orang warga suku Van Kieu di wilayah itu yang kini sudah Katolik.
Mereka juga memberikan kursus-kursus mingguan tentang bagaimana mengajar agama kepada orang muda. Orang muda-orang muda ini kemudian akan mengajar agama kepada warga desa mereka, kata Suster Hien.
Para suster juga menerjemahkan lagu-lagu rohani dan doa-doa ke dalam bahasa setempat dan bahkan membentuk sebuah paduan suara dengan 60 orang.
Marie Ho Ta Ho, 25, salah satu anggota paduan suara itu, mengatakan bahwa paduan suara itu menyanyi pada Misa Minggu serta upacara pernikahan dan pemakaman.