DHAKA (UCAN) – Kaum muda Katolik dan Protestan sedang menemukan bahwa walaupun ada sejumlah kesalahpahaman dan perbedaan keagamaan, mereka sesungguhnya memiliki cukup banyak persamaan.
Evans McReath, seorang Katolik, mengakui bahwa dia dulu merendahkan orang Protestan. “Mereka tidak menghormati Bunda Maria seperti yang dilakukan umat Katolik, dan saya sering mengucapkan kata-kata kurang baik terhadap mereka,” kata siswa berusia 19 tahun itu.
“Tetapi ketika saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan beberapa dari mereka baru-baru ini, saya sadar bahwa kita sebenarnya tidak terlalu berbeda,” katanya di sela-sela pertemuan kaum muda ekumene di Dhaka 20 Mei.
Sekitar 1.000 orang muda dari berbagai denominasi Kristen menghadiri acara setengah hari bertema “Mission Bangladesh: Dhaka Christian Youth Follow-up 2009″ yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Bangladesh (BBS, Bangladesh Bible Society) itu.
Acara itu meliputi ibadat ekumene, puji-pujian, pemerasaran yang diberikan oleh seorang pakar hubungan ekumene, perjamuan bersama, dan penyerahan Kitab Suci sebagai hadiah.
Bangladesh adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim yang membuat banyak orang Kristen melihat perlunya hubungan yang lebih akrab dan penyelesaian berbagai perdebatan. Dengan mengadakan pertemuan-pertemuan ekumene antara para pemimpin dan orang muda Kristen, diharapkan bahwa tembok-tembok penyekat antara umat Kristen dan Katolik dapat diruntuhkan, kata berbagai sumber Katolik.
Acara setengah hari pada 20 Mei itu merupakan pertemuan yang kedua yang diselenggarakan oleh BBS milik Protestan itu. Pertemuan pertama diselenggarakan pada bulan Februari 2008 yang dihadiri oleh sekitar 2.500 orang muda Kristen.
“Pertemuan semacam ini membantu kaum muda mengetahui tentang Gereja-Gereja lain dan mengurangi kemungkinan adanya salah paham,” kata sekretaris BBS, Pendeta James T.T. Halder. “Selain itu, kita berusaha memotivasi mereka untuk menghayati suatu kehidupan Kristen yang baik.”
Banyak umat Katolik juga bergabung dengan umat Protestan dalam sebuah “Ibadat Matahari Terbit” pada hari Minggu Paskah di Dhaka. Acara itu diselenggarakan oleh Persekutuan Gembala-Gembala, sebuah forum para pendeta Protestan.
Matthew Sarker, seorang mahasiswa dan jemaat Persekutuan Gereja Allah Protestan, berbicara tentang acara BBS itu: “Pertemuan hari ini telah mengubah pandangan saya tentang kehidupan. Saya sadar bahwa walaupun kita di sini berasal dari banyak Gereja, kita semua adalah pengikut Kristus. Maka, kita ini satu dalam Kristus.”
“Jika kita semua mengikuti ajaran Alkitab, tak seorangpun akan menjalani kehidupan mesum. Saya kira pertemuan itu sangat berhasil,” lanjutnya.
Jacinta Maria Gomes, 20, seorang mahasiswi Katolik mengatakan, dia kurang tahu tentang umat dari Gereja-Gereja lain dan cara peribadatan mereka.
“Saya tidak merasa ada sesuatu yang mendesak untuk selayaknya mengenal mereka, tetapi saya kini sadar bahwa saya memperoleh banyak hal baik dari mereka,” katanya. “Kini saya lebih paham tentang Gereja-Gereja lain, dan yang telah saya pelajari dari mereka adalah cara meneguhkan iman saya dalam Yesus.”
Di Bangladesh ada sekitar 400.000 umat Katolik dan 200.000 umat Protestan. Umat Kristen hanya 0,4 persen dari 150 juta penduduk negeri itu.