SEOUL (UCAN) – Pemakaman mantan Presiden Roh Moo-hyun berisi ibadat dari empat agama berbeda – Buddha, Katolik, Protestan, dan Buddha Won.
Para biksu dari sekte Jogye, agama Buddha terbesar di Korea, mendaraskan sutra, sementara Pendeta Kwon Oh-sung, sekretaris Dewan Nasional Gereja-Gereja di Korea (NCCK, National Council of Churches in Korea) berdoa bagi arwah Roh.
Sebuah paduan suara Protestan dan sekelompok suster-suster Katolik masing-masing menyajikan sebuah lagu pujian, sementara para biksuni dari agama Buddha Won, sebuah agama asli Korea, menyelenggarakan ibadat arwah sesuai agama mereka.
Pastor Peter Song Ki-in, yang mewakili Gereja Katolik, dan dua rekan imam lainnya mengucapkan doa bagi orang meninggal dan Pastor Song mendupai dan memerciki foto Roh dengan air suci.
Pembawa acara pemakaman 29 Mei itu memperkenalkan Pastor Song, seorang imam dari Keuskupan Pusan, sebagai penasehat rohani mantan presiden itu. Pastor Song bertemu Roh dalam berbagai aksi demokratisasi. Imam itu kemudian membaptisnya. Nama Kristen untuk mendiang presiden itu adalah Justo.
Upacara pemakaman secara kenegaraan dari mantan presiden pada 29 Mei itu diselenggarakan di halaman istana Gyeongbokgung di pusat kota Seoul. Sekitar 2.500 tamu terhormat menghadirinya, termasuk Presiden Lee Myung-bak.
Di luar istana itu, masyarakat dikelompokkan dalam sejumlah blok karena ratusan ribu orang menonton upacara itu di layar-layar lebar, dengan membawa pita, balon, dan topi kertas warna kuning. Kuning adalah warna sombolis dari Roh.
Roh melakukan bunuh dari dengan meloncat dari atas tebing dekat rumahnya pada 23 Mei. Awal tahun ini, suatu penyelidikan terhadap dirinya dan keluarganya dilakukan terkait dugaan suap. Roh diduga memperoleh suap sekitar US$6.4 juta.
Setelah upacara itu, prosesi dilakukan menuju pusat kremasi dekat Seoul. Abunya akan ditakhtakan sementara di sebuah kuil Buddha dekat rumahnya di Gimhae karena istrinya adalah seorang penganut agama Buddha yang saleh.
Pada hari sebelum pemakaman itu, Asosiasi dari Para Imam Katolik untuk Keadilan (CPAJ, Catholic Priests’ Association for Justice) mengadakan Misa peringatan bagi Roh di Katedral Myeongdong, yang dihadiri oleh sekitar 2.500 umat Katolik.
Monsignor Philip Kim Byeong-sang, penasehat CPAJ, yang memimpin Misa konselebrasi bersama sekitar 50 imam, mengatakan bahwa kematian Roh itu bukan bunuh diri tetapi keluar dari rasa cinta terhadap orang lain. Dia membandingkannya dengan para patriot Korea yang mengorbankan hidup mereka bagi demokrasi.
Dalam kotbahnya, imam senior secara keras mengkritik pemerintah. “Pemerintah ini tengah membinasakan berbagai prestasi politik dan kemasyarakatan 10 tahun terakhir dan tengah menghapus semuanya itu dari ingatan kita,” katanya.
Monica Yu Hye-won, yang menghadiri Misa itu, mengatakan kepada UCA News bahwa kematian Roh mungkin kelihatan seperti bunuh diri, tetapi itu sesungguhnya adalah pembunuhan yang dilakukan pemerintah dan media konservatif.
“Saya tidak pernah meragukan kejujurannya. Ia adalah seorang yang teguh bermoral. Dia membuktikannya bahkan dalam mengakhiri hidupnya. Saya hanya bisa mendoakannya semoga dia menikmati kedamaian bersama Allah,” kata perempuan itu.
Setelah kematiannya, sekitar satu juta pelayat berziarah ke kampung halamannya untuk memberi penghormatan, sementara sekitar dua juta lainnya mengungkapkan rasa dukacita mereka di berbagai tempat di seluruh negeri itu, demikian panitia pemakaman itu.
Andrew Kang Seung-chan, seorang pelayat yang menyaksikan pemakaman itu di jalan, mengatakan: “Kematiannya memang tragis dan sangat disayangkan bahwa Presiden Roh meninggal dunia seperti itu. Dia adalah seorang presiden yang baik, yang berkomunikasi dengan rakyat dan memberi harapan kepada mereka. Dan ini terbukti dengan sedemikian banyak orang yang berkabung di sini.”