KOTA VATIKAN (UCAN) – Paus Benediktus XVI meminta agar semua sandera di berbagai zona konflik dibebaskan, termasuk seorang pekerja Palang Merah asal Italia yang disandera oleh pria-pria bersenjata di Filipina bagian selatan.
Eugenio Vagni, 62, disandera pada 15 Januari di Sulu dan belum dilepaskan oleh kelompok ekstrimis Abu Sayyaf. Dua rekannya — Mary Jean Lacaba dari Filipina dan Andreas Notter dari Switzerland – yang diculik bersamanya telah dibebaskan.
Paus menyampaikan permohonan itu di akhir audiensi mingguan publiknya di Lapangan Santo Petrus pada 24 Juni, ketika memperingati 150 tahun dari apa yang kemudian menjadi International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies.
“Saya menggunakan momen ini untuk meminta agar semua orang yang disandera di berbagai daerah konflik dibebaskan dan, sekali lagi, agar Eugenio Vagni dibebaskan,” kata paus kepada ribuan orang, termasuk para peziarah dari Filipina. Pada Maret, paus telah meminta agar semua ketiga sandera itu dibebaskan.
Keluarga Vagni yang gundah menyambut baik permohonan kembali paus itu. “Sekali lagi, paus menangkap penderitaan kami dan memberi pengharapan kepada kami,” demikian keluarga dari pria yang disandera itu kepada harian Katolik Italia “Avvenire.”
Pada saat yang sama ketika paus menyampaikan permohonan, Khwuan Phungket, istri Vagni asal Thailand yang berusia 36 tahun, mengeluarkan sebuah surat terbuka yang meminta masyarakat “menemukan pemecahan atas situasi tragis yang dialami suami saya.” Dia meminta pemerintah dan parlemen Italia untuk “segera melakukan intervensi” agar suaminya bisa dibebaskan.
“Setiap hari berlalu, kesulitan bagi keluarga saya semakin sulit,” kata perempuan itu. Kedua anak kami membutuhkan ayah mereka.” Dia mengatakan, dia terakhir kali berbicara dengan Vagni lewat telpon pada 2 Juni, “namun sejak saat itu saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati,” kata Khwuan.
“Tidak ada lagi waktu untuk menunggu. Kondisi kesehatan suami saya kurang baik. Dia butuh pemeriksaan kesehatan,” tegas perempuan itu.
Pada 30 Maret, paus pertama kali meminta agar Vagni dibebaskan. Pada saat itu, hidup ketiga sandera itu benar-benar dalam bahaya karena kepungan tentara terhadap para penculik semakin merapat.
Itulah saatnya paus meminta demi “alasan dan rasa kemanusiaan” untuk “tidak melakukan kekerasan dan ancaman,” dan menyerukan kepada pemerintah Filipina untuk “mengutamakan solusi damai atas peristiwa dramatis ini.”
Permintaan kedua paus agar Vagni dibebaskan itu mengingatkan bagaimana tepat 150 tahun lalu lahir sebuah gagasan “adanya sebuah gerakan yang besar untuk menolong para korban perang.”
Sejak saat itu, lanjut paus, “nilai-nilai universalitas, netralitas, dan kemerdekaan pelayanan memperoleh dukungan jutaan relawan dari seluruh dunia, yang menciptakan pentingnya perlindungan terhadap kemanusiaan dan solidaritas di berbagai konteks perang dan konflik, dan di banyak situasi darurat.”
Paus juga mengungkapkan harapan bahwa orang-orang muda hendaknya secara khusus “membuat komitmen konkret” terhadap alasan “yang sangat pantas” ini.