KOTA VATIKAN (UCAN) – Perdana Menteri Jepang yang beragama Katolik, Taro Aso, akan bertemu dengan Paus Benedikus XVI dalam sebuah audiensi pribadi di Vatikan pada 7 Juli, hari sebelum Pertemuan Tinggi G8 dibuka di Italia, demikian Vatikan dan berbagai sumber diplomatik.
“Fakta bahwa paus dan perdana menteri itu akan bertemu bukan saja bermakna tetapi juga bernilai,” kata Duta Besar Jepang untuk Takhta Suci, Kagefumi Ueno, kepada UCA News. Dia bercerita bahwa Jepang dan Takhta Suci membentuk hubungan diplomatik tahun 1942.
Pertemuan ini akan merupakan yang pertama antara seorang perdana menteri Jepang dan paus sejak mantan Perdana Menteri Keizo Obuchi mengunjungi Paus Yohanes Paulus II tahun 1999.
Aso yang berusia 68 tahun dan paus yang berusia 82 tahun itu akan berbicara dengan menggunakan penerjemah di perpustakaan pribadi paus di Vatikan.
Setelah audiensi, pemimpin Jepang yang adalah cucu dari perdana menteri pasca-perang, Shigeru Yoshida (1946-54) itu akan memperkenalkan istrinya, Chikako, dan para pendamping lainnya kepada paus.
Setelah audiensi itu, Perdana Menteri Aso juga akan berbicara dengan Sekretaris Negara Vatikan, Tarcisio Kardinal Bertone.
Topik-topik pembicaraan tidak akan dipublikasi, namun para pengamat di Roma percaya bahwa pembicaraan agaknya akan meliputi isu-isu Pertemuan Tingkat Tinggi G8 seperti ekonomi dunia, kemiskinan, pelucutan senjata nuklir internasional – khususnya di semenanjung Korea – dan isu Israel-Palestina.
Uskup Agung Tokyo Mgr Peter Takeo Okada, ketua Konferensi Waligereja Jepang, bersama para pemimpin berbagai konferensi waligereja dari negara-negara lain, telah mengirim sebuah surat kepada perdana menteri Jepang dan para pemimpin negara-negara G8 lain (Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Federasi Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat).
Dalam surat itu, para uskup mendesak para pemimpin negara itu “untuk mengambil langkah terpadu guna melindungi orang miskin dan membantu negara-negara yang sedang berkembang dalam Pertemuan Tingkat Tinggi G8 mendatang,” dan juga menunjukkan betapa ini bisa dilakukan.
Banyak isu yang diangkat dalam surat (yang tersedia di website Konferensi Waligereja Jepang: http://www.cbcj.catholic.jp/eng/) ini dapat muncul kembali dalam pembicaraan pemimpin Jepang itu di Vatikan.
Selain itu, karena ensiklik sosial pertama Paus Benediktus, “Caritas in Veritate” (“Cinta Kasih dalam Kebenaran”), yang menekankan kebutuhan fundamental akan etika dalam ekonomi, akan dipublikasi sekitar 29 Juni dan pertemuan G8, maka ini juga bisa muncul dalam pembicaraan itu.
Dan karena sudah diketahui bahwa Paus Benediktus akan mempertimbangkan untuk mengunjungi Asia tahun depan, maka sumber-sumber di Vatikan menduga bahwa perdana menteri itu akan mengundang paus mengunjungi Jepang. Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Jepang tahun 1981.
Walaupun umat Katolik merupakan minoritas kecil di Jepang – satu juta di antara 127 juta penduduk, dan hanya 445.000 umat Katolik yang asli Jepang menurut statistik 2007 — Taro Aso sesungguhnya orang Katolik ketiga yang menjadi perdana menteri dalam sejarah modern, demikian Duta Besar Ueno.
Tetapi dia adalah satu dari tiga perdana menteri yang bertemu paus.
Perdana menteri Katolik lain adalah Hara Takashi (1918-1921) dan Hosokowa Morihiro (1993-94).
Audiensi Aso dengan paus akan menjadi pertemuan tingkat tinggi kedua antara Takhta Suci dan Jepang tahun ini. Pada bulan Maret, Uskup Agung Dominique Mamberti, sekretaris Vatikan (semacam menteri luar negeri Vatikan) untuk hubungan dengan negara-negara lain, berada di Tokyo untuk bertemu dengan menteri luar negeri Jepang, Hirofumi Nakasone, dan para pejabat pemerintah lainnya. Itu merupakan yang pertama kali seorang menteri luar negeri Vatikan mengunjungi Jepang sejak hubungan diplomatik kedua negara dibentuk 67 tahun lalu.