BANGKOK (UCAN) – Para imam dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dari matrialisme yang sedang berkembang dan perlu dukungan umat awam bagi mereka dalam menjalankan misi dan panggilan mereka dalam Gereja, kata klerus Thai.
“Imam itu bukanlah seorang imam bagi dirinya sendiri. Dia harus hidup untuk Kristus dan untuk orang lain,” kata Michael Kardinal Michai Kitbunchu, administrator Keuskupan Agung Bangkok, dalam Misa pembukaan perayaan Tahun bagi Para Imam.
Misa 28 Juni itu juga dimaksud untuk menutup Tahun Paulus dan merayakan tahun keempat pontifikat Paus Benediktus XVI, yang jatuh pada 29 Juni, Pesta Rasul Petrus dan Rasul Paulus.
Kardinal Michai memimpin Misa itu, didampingi oleh Duta Besar Vatikan untuk Thailand Uskup Agung Salvatore Pennacchio, serta para uskup dan imam lain, di Katedral Maria Diangkat ke Surga. Sekitar 500 orang menghadiri Misa itu.
Paus Benediktus XVI menetapkan satu Tahun bagi Para Imam yang dimulai 19 Juni 2009. Tahun khusus ini juga dimaksud untuk memperingati 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Maria Vianney, santo pelindung bagi para imam paroki.
UCA News berbicara dengan sejumlah klerus tentang tahun khusus ini.
Uskup terpilih Nakhon Sawan Mgr Phibul Visitnonthachai mengatakan, sekalipun “imam itu adalah wakil Yesus, banyak imam paroki terperangkap dalam konsumerisme dan mengejar hidup enak.”
“Imam hendaknya jangan lupa tiga kaulnya yaitu kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan,” tegasnya. Dalam merayakan Tahun bagi Para Imam, dia meminta klerus untuk mendukung umat awam untuk berperan dalam Gereja dan bekerjasama dengan para uskup dalam melakukan evangelisasi
Pastor Pipat Rungruangkanokkul, wakil sekretaris jenderal Konferensi Waligereja Thailand, sependapat bahwa para imam dewasa ini menghadapi tantangan konsumerisme.
“Tahun khusus untuk para imam ini merupakan kesempatan untuk merenungkan tentang panggilan imamat,” katanya, sambil menambahkan bahwa berdoa bagi para imam saja tidaklah cukup. Umat awam dalam Gereja perlu mendukung para imam dalam panggilan mereka dengan turut memikul tanggung jawab dalam paroki dan karya misi.
Pastor Vorayuth Kitbamrung, sekretaris Komisi Klerus dan direktur Komisi Komunikasi Sosial Thailand, mengatakan bahwa sekalipun jumlah imam Thai meningkat, “kita harus perlu menekankan mutu para imam.”
Komisi klerus dan konferensi waligereja telah merencanakan berbagai kegiatan sepanjang Tahun Para Imam di setiap keuskupan untuk menyadarkan umat Katolik akan identitas, misi, dan panggilan para imam.
Kegiatan-kegiatan itu antara lain, seminar bagi para imam di seluruh negeri pada 13-17 Juli dengan tema “The priest: the challenges of life and the pastoral care” (Imam: tantangan kehidupan dan pelayanan pastoral); program retret sabatikal bagi para imam di akhir tahun khusus ini; mencetak kembali sebuah buku tentang kehidupan Santo Yohanes Maria Vianney; menyebarkan doa bagi para imam ke semua keuskupan dan paroki; dan pemutaran film-film yang menceritakan tentang para imam, seperti film “The Mission” tahun 1986.
Film ini, yang dibintangi oleh Robert de Niro dan Jeremy Irons, bercerita tentang para imam Spanyol abad ke-18 yang berusaha melindungi suatu suku Indian terpencil di Amerika Selatan.
Menurut statistik Gereja, hingga tahun lalu, Thailand memiliki 750 imam yang melayani 334.937 umat dari 64 juta total penduduk Thailand.