BRISBANE, Australia (UCAN) – Ensiklik baru “Caritas in Veritate” (Kasih dalam Kebenaran) sangat menunjukkan kasih dalam membicarakan kebenaran menyangkut pembangunan manusia integral. Dan tema utama ini harus dilihat dalam keseluruhan pengajaran paus yang berlangsung sekarang ini.
Ensiklik pertama “Deus Caritas Est” (Allah itu Kasih) dari Paus Benediktus XVI menafsirkan caritas sebagai kasih, dan ensiklik sosial yang baru dimulai dengan mengatakan, “Kasih — caritas — …. menuntun manusia untuk memilih terlibat secara berani dan aktif dalam bidang keadilan dan perdamaian.” Ensiklik paus yang kedua, “Spe Salvi” (Dalam Pengharapan Kita Diselamatkan), mengatakan, pembangunan harus bersifat material dan spiritual.
Ketimbang memahami tema menyeluruh itu, beberapa orang yang suka berteori ingin mencari-cari kerumitan dalam ensiklik baru itu untuk menjadi bahan pembicaraan guna mendukung pandangan mereka sendiri. Mencari suatu arah baru untuk setiap gerakan Gereja, beberapa orang bahkan meneropong peran krisis ekonomi global dan secara tak langsung menyingkirkan dokumen itu. Mereka mengatakan, dokumen yang dikeluarkan 7 Juli itu memiliki sebuah pesan untuk pertemuan negara-negara G8 pada 8 Juli di Italia. Tentu saja ada, seperti terbukti dalam pernyataan Paus untuk “Para Milioner” yang mengontrol 90 persen produksi dunia dan 80 persen perdagangan dunia.
Namun banyak dari keprihatinan dalam dokumen itu justru terkait dengan “Para Lazarus” (orang miskin), yang beberapa representatifnya pergi ke Mesir untuk Non-Aligned Meeting dari 118 negara, 10 hari setelah G8. Dan jika kelompok-kelompok Asia cukup jeli, maka pesan itu mungkin tidak akan dilewatkan begitu saja dalam pertemuan ASEAN yang lebih terakhir di Thailand. Namun kenyataannya, media hanya sedikit melaporkan komentar Gereja Asia tentang ensiklik itu. Juga, sekalipun ensiklik itu tidak menyebut Asia, namun sebagai sebuah dokumen yang menafsirkan dua ensiklik terakhir dari Paus Paulus VI –“Populorum Progressio” (Tentang Pembangunan Bangsa-Bangsa) dan “Humanae Vitae” (Tentang Aturan Kelahiran) – ensiklik terakhir dari Paus Benediktus itu memiliki kaitan historis dengan Asia.
Paus Paulus menulis dua ensiklik yang kontroversial itu setelah dia mengunjungi India tahun 1964. Sekembalinya, menurut laporan, dia membuka file tentang “pembangunan manusia.” Eksposur langsungnya ke dalam berbagai persoalan kemiskinan dan kependudukan di negara Asia itu (India) memberi dampak yang terus bergema. Mungkin, dia sendiri juga meneguhkan dirinya, ketika mendorong para uskup muda India dengan kata-kata dari kitab-kitab Upanishad, “hanya kebenaran yang akan tetap jaya.”
Empat dekade kemudian, himbauan Paus Benediktus untuk pembangunan integral didasarkan pada kedua ensiklik Paus Paulus itu tentang pembangunan dan keluarga berencana. Dia melihat krisis ekonomi sebagai sesuatu yang terkait dengan krisis moral yang menantang panggilan “umat Kristen untuk pembangunan.”
Sorotan-sorotan penting dalam ensiklik itu yang diberikan ini bisa dipandang sebagai rancangan untuk tindakan Gereja Asia:
* Masalah pangan membutuhkan suatu silusi jangka panjang yang mempromosikan pembangunan pertanian di negara-negara miskin: pembagian lahan yang seimbang, infrastruktur pedesaan, irigasi, transportasi, penanganan pasar, dan pemanfaatan teknologi pertanian.
* Ekonomi membutuhkan suatu etika yang terpusat pada manusia yang melibatkan manusia dalam perencanaan dan penerapan program-program pembangunan. Penanganan keuangan dalam lingkup kecil secara etis harus selalu didorong.
* Bisnis harus bertanggungjawab baik oleh pemilik maupun buruh, konsumen, penyalur, dan komunitas yang menjadi sasaran. Bila profit menjadi tujuan utama, bisnis itu menghancurkan kesejahteraan dan menciptakan kemiskinan. Beberapa negara miskin mengalami “pembangunan yang dahsyat” namun menghasilkan penderitaan.
* Banyak negara memberi potongan pajak bagi bisnis-bisnis asing, tidak menangani pasar tenaga kerja, dan mengurangi keamanan sosial yang membahayakan hak-hak buruh. Kondisi kerja yang tak menentu menyebabkan ketidakstabilan sosial yang mempengaruhi rencana hidup, termasuk perkawinan. Asosiasi-asosiasi buruh harus dipromosikan. Tenaga kerja migran memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi dari negara yang menerima mereka dan negara asalnya. Seorang migran memiliki hak-hak fundamental dan absolut yang harus dihormati melalui solidaritas di setiap situasi termasuk pensiunan. Namun hak-hak individu dapat memperbesar tuntutan bila hak-hak itu dicabut dari tugas.
* Bantuan ekonomi harus melibatkan pemerintah dari negara penerima dan masyarakat madani, termasuk Gereja lokal dan masyarakat akar rumput. Terkadang bantuan dapat memasung rakyat menjadi sedemikian bergantung dan meningkatkan penindasan dan eksploitasi di negara penerima. Sejumlah donor dan mereka yang menerima bantuan justru menikmati bantuan, beberapa birokrasi pemberi bantuan memakan dana yang dimaksud untuk pembangunan. Bantuan utama yang dibutuhkan negara sedang berkembang dari pasar internasional adalah keterbukaan untuk menerima produksi dari negara sedang berkembang agar keberlangsungan hidupnya terjamin.
* Globalisasi dapat turut menyetarakan kembali kesejahteraan, tetapi jika diatur secara buruk, maka globalisasi itu sendiri akan meningkatkan kemiskinan dan ketidaksetaraan. Kekuatan globalisasi itu sendiri mesti ditandai oleh subsidiaritas (bantuan) dan solidaritas (kesetiakawanan). Subsidiaritas tanpa solidaritas akan membuka jalan bagi privatisme sosial (yang menguntungkan segelintir orang). Solidaritas tanpa subsidiaritas akan membuka jalan bagi dukungan sosial paternalis yaitu melecehkan mereka yang membutuhkan. Globalisasi dapay juga mendorong bentuk-bentuk “agama” yang mengalienasi (menimbulkan keterasingan) manusia satu sama lain dan menjauhkan mereka dari kenyataan.
* Mengucilkan agama dari ruang publik – dan, pada ekstrim lain, fundamentalisme agama – menghambat kontak antara pribadi-pribadi dan kerja sama mereka demi kemajuan. Pembangunan sendiri akan terhambat jika kebebasan agama disangkal, atheisme didorong, dan agama dijadikan semakin dingin.
* Prokreasi yang bertanggungjawab dapat memberi kontribusi bagi pembangunan manusia seutuhnya. Gereja mendesak agar nilai-nilai manusia dihormati dalam kegiatan seksualitas, yang tak boleh dibatasi hanya pada kenikmatan atau hiburan. Pendidikan seks tidak bisa dibatasi hanya pada instruksi teknis untuk melindungi pihak-pihak berkepentingan dari kemungkinan penyakit atau “resiko” prokreasi. Bangsa-bangsa yang padat penduduk muncul dari kemiskinan, setidaknya bukan karena masalah jumlah penduduk dan talenta rakyatnya. Keluarga-keluarga kecil dapat mempermiskin hubungan sosial.
* Negara-negara mesti mempromosikan sentralitas dan keutuhan keluarga yang didasarkan pada perkawinan antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Negara-negara mesti menjamin kebutuhan ekonomi dan menghormati karakter relasional keluarga. Namun beberapa pemerintah mempromosikan kontrasepsi, aborsi, dan euthanasia. Secara ekonomi, negara-negara berkembang dan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) justru mengekspor gagasan-gagasan seperti itu atas nama kemajuan kultural. Sejumlah donor mengaitkan bantuan pembangunan dengan kontrol kelahiran yang terukur.
* Gereja harus mempertahankan bumi, air, dan udara sebagai anugerah Penciptaan. Gereja mesti mempromosikan suatu ekologi yang manusiawi yaitu ekologi yang mengutamakan masyarakat dan memulihkan spiritualitas manusia. Manusia menafsirkan dan membentuk lingkungan melalui kebudayaan, yang arahnya diberikan oleh penggunaan kebebasan secara bertanggungjawab, sesuai apa yang dikatakan oleh hukum moral.
* Sejumlah negara dan perusahaan menyedot banyak sumber daya energi yang tak bisa dipulihkan, dengan demikian menghambat pembangunan di negara-negara miskin, yang tidak punya akses terhadap energi seperti itu atau keuangan untuk meneliti berbagai alternatif.
* Pariwisata internasional dapat membantu pembangunan ekonomi dan pertumbuhan kultural, namun dapat juga membuka jalan bagi eksploitasi dan pemerosotan moral. Pariwisata mesti mempromosikan saling pengertian tanpa memperlemah rekreasi yang sehat.
* Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga-lembaga ekonomi, dan keuangan internasional perlu ditata kembali, sehingga bisa menggerakkan keluarga bangsa-bangsa dan menjadi suara bagi negara-negara miskin.
* Pembangunan menuntut warga negara, pengatur keuangan, dan politisi yang jujur. Pembangunan mesti memberi perhatian pada kehidupan spiritual, kebergantungan pada belas kasihan dan penyelenggaraan Allah, kasih dan pengampunan, penyangkalan diri dan penerimaan orang lain, serta keadilan dan perdamaian.
——-
Hector Welgampola, seorang jurnalis asal Sri Lanka, adalah Executive Editor UCA News dari tahun 1987 hingga pensiun pada Desember 2001.
Alamat e-mailnya adalah hwelgambo@yahoo.com