SATKHIRA, Bangladesh (UCAN) — Satkhira adalah satu bagian Bangladesh yang selalu diabaikan, dihantam badai, siklon, dan kemiskinan yang mengerikan.
Bagi anak-anak seperti Bannya Boiragee yang berusia 12 tahun, kehidupan terlihat suram setelah ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan lain yang segera bosan dengan Boiragee.
Ketimbang ditelantarkan di jalanan, dia merasa tertolong ketika masuk ke sebuah panti yang dikelola Gereja. Panti itu memungutnya ketika dia berusia delapan tahun.
Ia mengatakan kepada UCA News, “Ibu tiriku tidak memperlakukan saya dengan baik dan memaksa saya untuk datang ke panti asuhan ini.”
Boiragee adalah satu dari 50 anak yang tinggal di Panti Asuhan St. Aloysius untuk anak-anak putri. Mereka diasuh oleh 10 janda Katolik yang juga tinggal di pusat itu. Panti asuhan itu didirikan tahun 1957 dan dikelola oleh Suster-Suster St. Aloysius Gonzaga, yang terkenal sebagai Suster-Suster Luigine.
Boiragee tidak tahu jelas tentang ibunya, namun ia kini bisa datang kepada para janda di panti asuhan itu untuk mendapatkan dukungan dan penghiburan.
“Perempuan-perempuan yang kami panggil Masi (tante yang kami anggap sebagai ibu kandung) mengasuh kami dengan baik dan Suster Irene Cruze, direktur, seperti seorang ibu bagi kami” kata pelajar kelas tiga itu.
Pusat itu membantu anak-anak di bagian Bangladesh yang sangat terkebelakang itu, yang mata pencaharian kebanyakan keluarga di sana adalah bertani dan menangkap ikan. Kebanyakan keluarga bertahan hidup dengan kurang dari 70 taka (US$1) per hari.
Keluarga-keluarga sering merasa sulit menanggung seorang anak dalam kasus kematian salah satu orangtuanya, dalam masalah ekonomi, dan bencana alam.
Sering, keluarga-keluarga seperti itu mengontak pastor paroki mereka untuk tolong mengasuh anak-anak mereka. Kadang-kadang, anak-anak dikirim ke pusat-pusat seperti itu.
Sama Panti Asuhan St. Aloysius melayani para remaja putri, Pusat Anak-Anak St. Andrew Bobola, yang berdekatan, membantu 150 anak-anak putra.
“Dalam 70 tahun terakhir, pusat itu telah membantu ribuan anak untuk membuat kehidupan lebih baik melalui pendidikan akademia dan pendidikan moral,” kata Pastor Giovanni Gargano, seorang Misionaris Italia dari Serikat St. Fransiskus Xaverius untuk Misi Asing (Society of St. Francis Xavier for Foreign Missions).
Panti anak-anak putra itu didirikan tahun 1939 oleh Pastor Henry Costa, seorang misionaris Yesuit asal Portugal.
Pastor Gargano, yang menjadi diretur sekarang ini, mengatakan: “Semula, para imam Xaverian, dengan bantuan uskup dari Khulna, serta para donatur lokal dan asing, mengelola pusat itu.”
Kedua pusat itu didirikan untuk menyediakan makanan, pakaian, dan bantuan medis.
Setiap bulan, pusat-pusat itu mengadakan sesi-sesi penyuluhan bagi anak-anak. Anak-anak juga belajar nilai-nilai Kristen, doa, dan pelajaran agama melalui kelas-kelas khusus yang diadakan oleh para pastor dan suster.
Anak-anak itu juga menerima pendidikan SD dan SMP di sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah yang dikelola Gereja.
Setelah menyelesaikan lulus ujian dengan mendapat ijazah dari sekolah menengah, mereka kembali ke paroki asal mereka. Pastor paroki mereka kemudian membantu mereka melanjutkan pendidikan mereka dengan dukungan dana dari para donatur.
Seperti Boiragee, Prince Halder juga mengalami masa-masa sulit.
“Ayahku meninggal dua tahun lalu dan ibuku mulai bekerja di pabrik garmen di Dhaka. Ia meninggalkan saya dengan tante saya, namun karena terlalu miskin, mereka tidak bisa mengasuh saya maka mereka mengirim saya” ke pusat St. Andrew Bobola, kata pelajar kelas lima itu.
“Saya masih merasa kehilangan orangtuaku namun saya senang dengan apa yang saya miliki sekarang, termasuk pendidikan,” tambahnya.