LAHORE, Pakistan (UCAN) – Uskup Auxiliar Lahore Mgr Sebastian Shah mengharapkan sidang FABC mendatang membantu Gereja di Pakistan untuk menanggulangi bias agama dan melindungi nilai-nilai keluarga.
Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishop’s Conferences) ke-9 akan berlangsung 10-16 Agustus di Manila dengan tema “Living the Eucharist in Asia” (Penghayatan Ekaristi di Asia). Uskup Shah dan Uskup Agung Lahore Mgr Lawrence J. Saldanha akan hadir mewakili Konferensi Waligereja Pakistan (PCBC, Pakistan Catholic Bishops’ Conference).
Uskup Agung Saldanha, ketua konferensi itu, kini sedang berada di Kanada bersama keluarganya. Uskup Shah, 51, uskup termuda asal Pakistan, sedang bersiap untuk sidang pleno itu.
“Pendidikan adalah keprihatinan utama PCBC. Sekolah-sekolah misi belum menghasilkan orang-orang terpandang akibat sebuah silabus yang menyimpang,” kata uskup itu kepada UCA News.
“Nasehat dari para uskup yang berpengalaman dari banyak negara-negara yang lebih maju di Asia dapat membantu kami menghadapi tantangan tersebut,” tambahnya
Gereja Katolik dan para pendidik liberal telah lama menghendaki adanya sebuah kurikulum yang lebih sekular, bebas dari apa yang mereka lihat sebagai bias agama yang sistematis dan bias komunal. Gereja menegaskan bahwa buku pelajaran tidak sensitif pada keragaman agama di Pakistan, menghasut kekerasan, dan mendorong kecurigaan, sikap fanatik, dan diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok-kelompok agama minoritas. Berbagai surat kabar mengutip para pejabat Departemen Pendidikan yang tidak mau menyebut namanya yang menerima bahwa buku-buku pelajaran sekarang ini menyimpang dan mengarah kepada kecurigaan terhadap komunitas-komunitas agama minoritas di Pakistan, yang 95 persen dari penduduk adalah Muslim.
Uskup Shah juga berharap bahwa sidang pleno itu akan mengangkat hal-hal yang menunjukkan sebuah “kemerosotan nilai-nilai keluarga dan hilangnya kepekaan moralitas.” Ia melihat peningkatan kekerasan serta ketidakstabilan politik dan hukum sebagai faktor utama terkait dengan hal ini.
Mati listrik yang berlangsung delapan jam sehari di seluruh negeri itu juga turut mengakibatkan merosotnya nilai-nilai, lanjutnya. Ia menjelaskan bahwa pembatasan listrik telah menutup lebih dari 500 pabrik di Lahore sendiri, dan peningkatan pengangguran terkait dengan peningkatan kejahatan.
Umat Kristiani terdiri dari 1,6 persen dari 160 juta total penduduk Pakistan.