SURABAYA, Jawa Timur (UCAN) – Keuskupan Surabaya di propinsi Jawa Timur telah mendirikan dan meresmikan seminari tinggi yang bertujuan untuk meningkatkan panggilan imamat dan membina calon imam secara integral sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
Penekanan pada aspek akademik saja tidak akan menumbuhkan dan memelihara panggilan imamat, kata Pastor Stephanus Fanny Hure, rektor Seminari Tinggi Providentia Dei. Karena itu, ia berencana untuk mengundang orang muda di keuskupan itu untuk berkunjung dan mengalami kehidupan para calon imam.
Imam itu berbicara kepada UCA News pada 14 Agustus, setelah sembilan calon imam angkatan pertama seminari itu memulai studi filsafat pada awal bulan ini di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Para calon imam yang baru itu tinggal di Rumah Retret Hening Griya, karena pembangunan seminari dimulai tahun depan dan selesai tahun 2011. Bangunan yang rencananya terdiri dari lima lantai dan 60 kamar itu didirikan di sebidang tanah seluas 1.134 meter persegi dan memerlukan biaya 9 milyar rupiah.
Para calon imam diosesan keuskupan Surabaya yang selama ini dididik di interdiosesan Seminari Tinggi Giovanni XXIII di Malang, Jawa Timur, tetap melanjutkan studi mereka di sana. Tetapi, mulai tahun ini, calon-calon imam yang baru untuk keuskupan Surabaya akan dibina di Seminari Tinggi Providentia Dei.
Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono memimpin misa khusus peresmian seminari tinggi yang baru itu. Providentia Dei akan membantu para frater-frater untuk mengenal situasi keuskupan mulai dari awal program pembinaan mereka, yang akan membantu mereka melayani umat secara efektif, katanya.
“Sekaranglah waktu yang tepat bagi keuskupan kita untuk memiliki seminari tinggi sendiri,” tambahnya, seraya menceritakan bahwa gagasan pendirian seminari itu muncul sebelum ia ditahbiskan sebagi uskup pada Juni 2007.
Menurut statistik 2008, keuskupan Surabaya memiliki 110.976 umat Katolik yang dilayani 63 imam, 366 suster dan 23 bruder.