UCAN Philippines Catholic Church News
Sacred Space

FILIPINA – Wawancara UCAN – Sebuah Gereja “Partisipatoris” Akan Menantang Kekuasaan Hirarki, Kata Uskup

26/08/2009

QUEZON CITY, Filipina (UCAN) –  Uskup Emeritus Mgr Francisco Claver, dalam buku barunya, “The Making of the Local Church” (Penciptaan Gereja Lokal), men-sharing-kan visinya tentang sebuah Gereja yang partisipatoris dan terinkulturasi.

Antropolog Jesuit itu berbicara dengan UCA News tentang ketegangan-ketegangan seperti konsep yang telah terjadi dalam Gereja, termasuk tantangan yang dihadapkan pada struktur kekuasaan yang mapan.

Uskup Claver, 80, adalah uskup pertama yang berasal dari warga suku Bontoc, Filipina utara. Ia ditahbiskan tahun 1961 dan diangkat menjadi uskup pertama Malaybalay, di Propinsi Bukidnon bagian selatan. Ia bertugas di sana hingga 1983.

Dari tahun 1995 hingga pensiun tahun 2004, ia memimpin Vikariat Apostolik Bontoc-Lagawe. Ia juga menjadi ketua Komisi Aksi Sosial, Keadilan, dan Perdamaian dari Konferensi Waligereja Filipina di tahun 1980-an.

Pada 24 Agustus, dua hari sebelum meluncurkan bukunya di Sekolah Tinggi Teologi Jesuit di Quezon City, ia men-sharing-kan dengan UCA News hal-hal penting dari pelayanannya dan gagasan yang ia peroleh, termasuk visinya tentang Gereja.

 

Berikut ini wawancaranya:

 

UCA NEWS: Bagaimana Anda mendefinisikan “Gereja lokal”?

 

USKUP FRANCISCO CLAVER: Gereja lokal adalah sebuah Gereja para uskup, imam, religius, dan kaum awam yang dengan caranya sendiri berupaya untuk menghidupkan Injil hidup di komunitas-komunitas mereka, tempat para anggota berinteraksi sebagai umat Kristen dan umat manusia.

 

Anda menyoroti inkulturasi dalam buku Anda

 

Inkulturasi merupakan dialog antara manusia dan Roh Kudus, dan itu harus terjadi di semua jenjang kehidupan Gereja lokal. Iman merupakan sebuah anugerah Roh Kudus, dan kebudayaan itu milik manusia. Jika Anda menyatukan keduanya, maka Roh Kudus akan berbicara tentang nilai-nilai Injil, dan inkulturasi berusaha menyatukan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai iman Anda.

 

Mengapa gerakan untuk membangun Gereja lokal itu lamban?

 

Lihat sebentar buku itu — jurnal-jurnal teologi berbicara tentang Gereja lokal sangat umum. Hanya Roma yang menekankan “Gereja partikular” dan istilah-istilah lain. Kardinal dari Kuria Roma yang saya angkat dalam buku itu, mengatakan kepada kita dalam Sinode (untuk Asia) 1998, “marilah kita berbicara tentang ‘Gereja di’ bukan ‘Gereja dari’ Asia” – semua itu bagian dari upaya ini untuk menghantam Gereja lokal.

     

Mengapa Roma lebih suka “Gereja di Asia”?

 

Jika Anda sekedar mengatakan “Gereja di,” maka itu adalah bagian dari suatu struktur kekuasaan. Anda hanya suatu bagian kecil, tetapi jika ”Gereja dari” maka itu berarti ada kemerdekaan yang lebih besar. Itulah sebabnya saya mendesak untuk menggunakan istilah “Gereja lokal.” Para uskup Asia sudah menggunakan istilah ini dalam Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishops’ Conferences) tahun 1974. Bahkan waktu itu, para uskup mengatakan bahwa Gereja di Asia itu hendaknya bukan saja secara geografis “di Asia,” tetapi juga berbicara dengan suatu suara Asia, bertindak dengan cara Asia, sehingga kita bisa menjadi umat Kristen Asia yang otentik.

Namun selama Sinode Asia itu, kardinal itu menolak istilah itu dan malah menyarankan istilah “Gereja di Asia.”  Saya tidak menolak istilah itu, karena istilah itu tidak salah untuk “Gereja Asia” dan “Gereja lokal.” Istilah itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Konsili Vatikan II tentang hakekat dan misi Gereja.

 

Apakah visi “Gereja lokal” ini terwujud tanpa dukungan Roma?

 

Ya, marilah kita bicara bukan tentang Roma. Marilah kita bicara tentang apa yang terjadi di bawah, tentang pembaruan dari bawah. Hal besar tentang mengubah kebudayaan klerus harus dimulai dari bawah, dengan kaum awan yang berinteraksi dengan imam mereka, ini sangat menggerakkan. Itulah sebabnya saya menciptakan banyak Komunitas Basis Gereja (KBG). Jika apa yang terjadi dalam KBG itu terjadi juga di puncak yaitu pada gagasan menyeluruh tentang partisipasi ini, maka kita bisa memiliki sebuah komunitas murid-murid yang sejati.

 

Elemen-elemen penting apa saja yang diperlukan KGB untuk berhasil?

 

Para antropolog adalah orang-orang pertama yang mengatakan bahwa perubahan kebudayaan itu tidaklah gampang karena perubahan itu berdampak pada nilai-nilai manusia. Anda tidak bisa mengubah nilai-nilai dalam semalam. Semakin Anda membicarakannya, semakin baik.

 

Bagaimana KBG mempromosikan Gereja lokal?

 

Dalam KBG kita tekankan discerment (memilah-milah secara jeli). Biarkan umat membuat discerment dan sadar apa nilai-nilai itu dan perubahan-perubahan apa saja yang sedang terjadi. Yang kami tekankan adalah komunitas-komunitas iman yang saling berbagi.

 

Siapa yang akan menuntun discerment itu?

 

Para bijak dari desa yang tahu kebudayaan: umat.

     

Umat mengeluh tentang para imam yang menghambat KBG.

 

Para imam itu memang hambatan besar. Itulah sebabnya kami mulai dengan filsafat perubahan. Pengalaman saya sendiri di Bukidnon merupakan sebuah contoh. Saya ingin memulai KBG. Saya memiliki 30 imam, semuanya Yesuit, dan hanya segelintir mereka — empat atau lima imam muda — yang terbuka terhadap KBG. Maka bersama lima imam itu, kami jalan dan mengembangkan KBG. Perlahan-lahan, ketika yang lain mulai melihat apa yang terjadi, barulah mereka tertarik. Ketika saya meninggalkan Bukidnon tahun 1983, 33 dari 35 paroki sudah berjalan sepenuhnya dengan KBG. Para pemimpin awam dan imam harus memahami dan menerima perubahan yang sedang terjadi.

 

Contoh-contoh discerment dan partisipasi umat macam apa yang Anda berikan dalam buku Anda?

 

Ada seorang awam yang berbicara tentang ideologi. Pada sebuah rekoleksi saya bertanya mengapa ideologi Marxis kelihatannya lebih menarik ketimbang agama Kristen. Satu dari mereka mengatakan ideologi Marxis dan metode-metodenya itu jelas, namun sebagai umat Kristen kita justru harus bisa berjalan dalam kegelapan dan membuat discernment apa yang Injil katakan kepada kita untuk dilakukan.

Saya kaget, karena ini merupakan pendapat seorang pria bahkan tanpa pendidikan sekolah menengah, dan seorang warga suku.

Saya juga menulis surat gembala yang mengatakan bahwa tidaklah benar bagi orang Kristen untuk ikut dalam referendum yang dijadwalkan (Ferdinand) Marcos untuk menunjukkan bahwa masyarakat mendukung regimnya. Ini menghina martabat mereka sebagai suatu masyarakat. Saya menulis bahwa memboikot referendum itu merupakan tindakan yang lebih bermoral untuk dilakukan.

Namun ketika keluarga-keluarga berkumpul untuk melakukan discernment terhadap surat gembala itu, saya terkejut atas keputusan yang mereka buat yaitu para suami memboikot referendum itu dan para istri akan ikut memberi suara untuk referendum itu. Keluarga memang sangat menjadi bagian dari kebudayaan orang Filipina. Sang ayah bisa dipenjarakan, namun ada orang lain harus memperhatikan anak-anak. Maka dari rasa tanggung jawab itulah mereka membuat keputusan untuk melakukan hal ini, dengan mempertimbangkan apa kata iman dalam pertemuan kebudayaan mereka.

Ketika Anda melihat kejadian ini, Anda mulai menanyakan diri Anda sendiri apakah kita bisa memiliki hal ini dalam Gereja secara menyeluruh – orang-orang bijak yang membuat keputusan-keputusan yang bertanggungjawab. Bukanlah inilah Gereja partisipatoris itu?

     

Kelihatannya sudah jelas. Mengapa harus dijelaskan lagi?

 

Saya kira, ini soal kekuasaan. Itulah sebabnya saya mengkritik kuasa klerus dalam buku itu. Dalam buku itu, saya menyebut bahwa bagi sejumlah klerus, itu bukan tentang kesatuan tetapi keseragaman. Kita cenderung menekankan melakukan hal yang sama, tapi kami bisa memiliki kesatuan dalam keragaman.

 

Anda mengatakan bahwa buku ini merupakan ringkasan perjalanan Anda sebagai uskup, namun bukankah justru lebih dari itu?

 

Sekalipun saya bicara tentang pengalaman-pengalaman saya di Malaybalay dan Bontoc-Lagawe, para pembaca mengatakan bahwa mereka tahu kalau justru berbicara tentang Gereja secara keseluruhan di Mindanao (kawasan Filipina selatan). Saya juga membahas dalam buku itu simbiosis antara Gereja dan negara. KBG tidak hanya bertujuan untuk mengubah Gereja, tapi juga masyarakat lebih luas.

 

Apa dampak kemiskinan dalam KBG?

 

Memang lebih mudah membangun KBG dalam komunitas-komunitas miskin. Di kota-kota sulit, karena sejumlah orang tidak peduli, namun juga karena orang kota lebih kosmopolitan.

Sebuah KBG berfungsi lebih baik di daerah terpencil, yang masyarakatnya masih memiliki rasa kekeluargaan, berkumpul di kapel desa, dan tak seorang pun asing bagi satu sama lain. Itu menjadi salah satu keberatan sejumlah imam terhadap KBG di kota, namun saya mengatakan bahwa KBG di kota itu bahkan lebih masuk akal.

Gunakanlah imaginasi Anda mengumpulkan umat. Sebuah KBG harus terkait dengan paroki, dengan keuskupan, dengan Gereja lokal. KBG hendaknya tidak terpisah seperti sebuah ghetto (atau) menjadi sebuah sekte. Itulah sebabnya, saya juga jelaskan perbedaan antara organisasi sukarela dan organisasi sesuai mandat. KBG itu bersifat non-selektif, tidak seperti Knights of Columbus dan kelompok-kelompok lainnya. KBG menerima umat yang telah dibaptis.

 

Ketika Anda mulai sebagai seorang imam, apakah Anda membayangkan bahwa Anda memimpinkan sebuah Gereja seperti itu?

 

Tidak. Kami dididik dalam Gereja lama, dengan bahasa Latin dan sebagainya. Kemudian muncul Konsili Vatikan Kedua dan itu sangat revolusioner.

 

Apakah Anda mengantisipasi bahwa gerakan dari bawah itu akan mendapat penolakan dari hirarki?

 

Itu tergantung pada arah yang diambil Gereja. Saya memiliki harapan besar untuk Gereja Filipina, karena dalam Sidang Pleno Kedua dari Gereja Filipina (PCP II, Second Plenary Council of the Philippines) 1991,  sedikitnya Gereja sudah mengatakan bahwa inilah yang kita inginkan. Para uskup butuh waktu cukup lama untuk belajar. Orang membicarakan perbedaan antara kelompok konservatif dan liberal, namun saya katakan bahwa itu bukan masalah kita.

Masalah kita itu ada di antara orang konservatif yang berpikiran tertutup dan orang liberal yang juga berpikiran tertutup. Mereka sudah punya semua jawaban. Karena itu, ketika Anda bicara tentang Gereja partisipatoris, Anda harus banyak menciptakan Gereja yang senantiasa belajar. Itulah masalah para uskup. Mereka selalu mengira bahwa mereka bertugas untuk mengajar, dan tidak melihat sisi lain, bagian yang senantiasa belajar.

 

Dalam menulis buku ini, apakah Anda sadar akan kekurangan imam?

 

Saya menghadapi pertanyaan: Mengapa Anda menyebut hal itu bersifat eklesial padahal untuk menjadi eklesial, Anda harus memiliki Ekaristi? KBG tidak memiliki Ekaristi. Gereja mengajarkan tentang sentralitas Ekaristi, namun jika dia tidak menyediakan imam untuk ini, maka dia mungkin perlu melonggarkan peraturan tentang selibat. Di sini, apa yang saya jelaskan itu menentang Gereja. Jika Anda adalah orang yang  berbicara tentang sentralitas Ekaristi, Anda menentang diri Anda sendiri. Kami membuat itu lebih penting bahwa peraturan selibat diikuti meskipun orang tidak menikmati Ekaristi. Itulah Gereja yang memaksakan peraturan selibat.

 

Aspek-aspek lain apa saja dalam buku itu yang Anda harapkan akan menimbulkan reaksi?

 

Gagasan yang saya angkat itu tentang suara konsultatif-deliberatif para uskup menyangkut hukum kanonik secara menyeluruh. Itulah sesungguhnya yang salah dari Gereja, dan kita belum berhadapan dengan kesalahan itu menyangkut kuasa dalam Gereja. Saya mempertanyakan partisipasi dalam Gereja. Saya mengatakan kepada Gereja, Anda tidak menghormati martabat manusia, dan saya mengkritik suara konsultatif-deliberatif karena jika suara itu memperhatikan kehidupan komunitas, umat punya hak untuk mengatakan sesuatu. Bahkan dalam demokrasi, orang bermusyawarah, tapi dengan menekankan hukum kanonik ini, Gereja sebenarnya sedang memberi tekanan pada kekuasaan.

 

Apa sesungguhnya yang Anda lawan dalam hukum ini?

 

Dalam berkonsultasi, saya mungkin meminta ide-ide Anda, namun sudah dari awal, pikiran saya dipoles. Proses konsultatif itu merupakan suatu sandiwara. Misalnya, dalam berbagai sinode, dokumen-dokumen itu sudah ditulis. Atau suatu konsultasi memang ada, namun hanya Paus yang menulis pernyataan akhir. Paus bisa melakukan itu tanpa konsultasi.

Ya, semua itu menyatu. Ada banyak hal dalam konsep Gereja partisipatoris itu — ada kekuasaan, ada inkulturasi. Itulah sebabnya ”Gereja lokal” menjadi konsep yang sangat mengancam bagi hirarki.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Anak yatim-piatu temukan rasa kekeluargaan
  2. Penutupan 17 gereja di Aceh dilaporkan ke Komnas HAM
  3. 1,6 juta anak Indonesia kekurangan gizi
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Ketegangan menyusul kekerasan
  6. Ziarah Santa Maria Fatima
  7. Peziarah Lourdes asal Indonesia alami kecelakaan, seorang meninggal
  8. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  9. Bangun masjid sebagai solusi terbaik kasus GKI Yasmin
  10. Dokumen tunjukkan bukti Yesus pernah ke Jepang
  1. Jemaat HKBP Filadelfia dilempari air got dan urine
  2. Ketegangan menyusul kekerasan
  3. Ribuan umat Kristiani berdoa bagi perdamaian
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  6. Korban Sukhoi didoakan umat Katolik pada Hari Kenaikan
  7. Istri Bill Gates, seorang Katolik, dukung pengendalian kelahiran
  8. Ketua MPR bertemu pimpinan KWI dan PGI
  9. Ziarah Santa Maria Fatima
  10. Pemrotes anti-nuklir akhiri mogok makan
  1. Mungkin gedung sebaiknya dijual untuk klinik, apotik dll.   lalu cari tempat lai...
    Said Jenny Marisa on 2012-05-18 22:54:00
  2. Semoga Tuhan mengampuni mereka yang melakukan kekerasan.  ...
    Said Andreas Darmadi on 2012-05-18 15:00:00
  3. Dasar islam:( ga mampu bangun mesjid. Akhirnya merampok dgn terang2an, dgn memin...
    Said rampok atas nama agama (islam) on 2012-05-18 09:25:00
  4. Kementrian Agama takut di demo. titik...
    Said Yantosaputrayo on 2012-05-18 05:40:00
  5. Beribadah merupakan hak paling asasi karena itulah cara manusia berkomunikasi da...
    Said Johnynatu on 2012-05-18 05:33:00
  6. Ah, Percuma itu komnas HAM. Hanya macan ompong....
    Said Omar Sarif on 2012-05-17 21:28:00
  7. medan aceh deket bungg.... hati2 ...
    Said Gos_ban on 2012-05-17 19:36:00
  8. Biarkanlah semua yang dilakukan oleh manusia, Tuhan Yesus yang mempunyai kuasa a...
    Said Agus Howay on 2012-05-17 18:20:00
  9. Konflik Maluku tahun 2002-2004 dibuat oleh alat keamanan. Orang Maluku yang ahli...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:27:00
  10. Sulit berkomentar jika ada kelompok2 yang mau benarnya sendiri, mau menangnya se...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:21:00