YANGON (UCAN) – Para pemimpin Gereja Myanmar yang menghadiri Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishops’ Conferences) baru-baru ini mengatakan bahwa sidang dengan fokus tentang Ekaristi itu membantu mereka menyadari perlunya menjangkau orang lain dalam komunitas yang lebih besar, terutama mereka yang kurang beruntung.
Karena menghayati Ekaristi itu sama dengan “menemui Kristus dalam saudara dan saudari kita, maka kita harus menjangkau mereka yang menghadapi berbagai kesulitan finansial dan lainnya ketimbang tetap enak dalam situasi kita sendiri sebagai uskup, imam, religius,” kata Uskup Agung Yangon Mgr Charles Bo.
“Saya menjadi lebih sadar tentang perlunya memperhatikan orang miskin,” kata prelatus Salesian itu setelah kembali dari sidang 11-16 Agustus yang bertema “Living the Eucharist in Asia” (Penghayatan Ekaristi di Asia) itu.
Uskup Agung Paul Zinghtung Grawng, ketua Konferensi Waligereja Myanmar, dan dua uskup lain juga menghadiri sidang pleno itu.
Uskup Agung Bo bercerita bahwa hampir semua uskup dari Asia itu sependapat bahwa banyak umat Katolik mempraktekkan iman yang individualistik.
Dia menambahkan bahwa hal ini menguatkan pengamatannya bahwa banyak umat Katolik di Myanmar menghadiri Misa hari Minggu hanya untuk memenuhi kewajiban agama.
“Ketika menghadiri Misa, hampir semua umat tidak tahu dan tidak mau tahu siapa yang duduk di kiri-kanan mereka. Mereka langsung meninggalkan Gereja setelah Misa, dan aspek-aspek kebersamaan mulai hilang.”
Dia juga mengatakan, sidang pleno itu membuatnya sadar lebih dari sebelumnya bahwa Ekaristi itu harus menggerakkan umat untuk menjangkau orang lain, dalam kasus Myanmar kita harus menjangkau masyarakat yang kebanyakan penduduknya beragama Buddha.
Orang tidak bisa merayakan Ekaristi “dan pada waktu yang sama mempertahankan, mempraktekkan, dan mentolerir diskriminasi berdasarkan agama atau ras, kebudayaan, bahasa, kasta, atau kelas,” tegas Uskup Agung Bo.
Uskup Agung Grawng mencatat bahwa banyak orang di Myanmar itu sangat miskin, terutama mereka yang hidup di daerah-daerah pedesaan. “Jika kita mau hidup sesuai dengan Ekaristi, kita harus berbagi apa yang kita miliki dengan mereka yang tidak memiliki apa-apa,” katanya.
Kedua prelatus itu mencatat bahwa para uskup lain dalam sidang pleno itu mengusulkan agar praktek penghormatan Sakramen Mahakudus itu dilakukan, karena hal itu merupakan suatu praktek yang baik untuk memperdalam pengalaman pribadi akan Ekaristi.