PHNOM PENH (UCAN) – Perempuan Muda Kamboja sedang naik daun untuk peran kepemimpinan dalam berbagai lembaga Gereja di masyarakat mereka yang didominasi laki-laki itu.
Perempuan tidak lagi kurang kompeten dibandingkan kaum pria dalam memegang berbagai tugas manajerial, tegas Srey Ponhacka, 29, direktur Paul Tep Im Center, sebuah asrama bagi pelajar putri dan mahasiswi di Battambang.
Bulan depan, dia akan mulai bekerja di Phnom Penh sebagai manajer St. Clara Student Center, yang menampung sekitar 20 mahasiswi dari seluruh negeri itu.
Ponhacka melihat pelayanan itu sebagai “peluang untuk mengembalikan perbuatan baik kepada Gereja.” Perempuan yang berasal dari sebuah keluarga miskin itu mengatakan, Gereja telah mendukung berbagai studinya di perguruan tinggi dan membantu berbagai kebutuhan medisnya.
Mengakui bahwa kaum pria secara tradisional telah memenuhi berbagai peran kepemimpinan di Kamboja, dia mengatakan bahwa sekarang terserah kepada kaum perempuan untuk melihat diri mereka sendiri bernilai – mampu memimpin proyek-proyek dan menjadi kekuatan moral dalam masyarakat. “Kaum perempuan itu tidak lemah, seperti yang sering dikatakan oleh kaum pria,” kata Ponhacka.
Pastor John Evens Ashley SJ, direktur Catholic Church Students Center (CCSC) di Phnom Penh, sependapat bahwa kaum perempuan bisa melakukan hal-hal seperti yang dilakukan kaum pria. Dan dia memberi kesempatan kepada Hun Saren, seorang perempuan Kamboja, untuk membuktikannya.
Imam itu mengatakan, dia baru-baru ini memilih Saren sebagai penggantinya, sesuai dengan tujuan Gereja untuk memberi peluang kepada orang Kamboja memimpin berbagai proyek Gereja setempat.
Saren, 29, akan mengambilalih tugas itu pada bulan September. Dia sebelumnya bekerja di sebuah LSM yang memperjuangkan hak asasi manusia. Saren mengatakan, dia ingin melayani orang muda dan membantu mereka menghadapi berbagai tantangan modern. Pusat itu memberi dukungan material dan spiritual bagi para mahasiswi miskin dari propinsi-propinsi yang belajar di universitas di ibukota negara itu.
Seorang perempuan muda lain dalam jabatan kepemimpinan adalah Keo Kagnha, wakil direktur kantor Catholic Social Communications (CSC) di Phnom Penh sejak Maret lalu. Perempuan berusia 23 tahun itu menjelaskan bahwa dia diberi wewenang untuk bidang keuangan dan produksi radio dari CSC. Tugasnya itu merupakan “pekerjaan yang sangat berat.”
“Kadang-kadang saya harus lembur dan bekerja pada akhir pekan untuk bisa menyelesaikan pekerjaan saya,” katanya. Namun, dia juga mengatakan, dia menganggap tempat kerjanya sebagai “rumah kedua” dan merasa bahagia “membawa pesan Yesus kepada masyarakat.”
Soun Bunnareth, 26, yang mengepalai kantor kebudayaan dari Prefektur Apostolik Battambang, memasukan kreativitas seni dalam pekerjaannya, yang mencakup penciptaan tarian liturgi bagi anak-anak berdasarkan bentuk tarian tradisional Khmer.
Suster Ang Sangvat, yang mengelola asrama putri di Propinsi Prey Veng, melihat kaum perempuan sekarang ini sebagai orang-orang mampu, cerdas, berani, dan mandiri.
“Kini ada banyak perempuan muda yang berpeluang untuk studi dan mendapatkan pekerjaan yang baik,” kata biarawati dari Tarekat Pencinta Salib Suci itu. Dia mengatakan bahwa dia mendukung langkah-langkah untuk mengizinkan perempuan memimpin berbagai proyek Gereja.