KARAWANG, Jawa Barat (UCAN) – Di negara mayoritas Islam ini, jutaan orang melaksanakan tradisi mudik guna merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halamannya. Tahun ini sebuah rumah sakit Katolik membuat pos kesehatan untuk memberikan pengobatan gratis bagi pemudik ini.
Rumah Sakit Santo Borromeus mendirikan pos kesehatan di bawah sebuah tenda di Rest Area KM 57 Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang biasa digunakan masyarakat dari Jakarta menuju propinsi-propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta serta Jawa Timur. Rumah sakit itu menempatkan tiga dokter, empat paramedis dan lima staf lain untuk bekerja non-stop dari pukul 9 pagi tanggal 18 September hingga pukul 3 sore tanggal 19 September.
Departemen Agama serta beberapa kelompok Islam utama termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, menetapkan Idul Fitri jatuh tanggal 20 September tahun ini. Hari itu menandai berakhirnya bulan Ramadhan, saat kaum Muslim berpuasa dari subuh hingga senja hari serta berdoa untuk membersihkan jiwa dan mengendalihkan hawa nafsu.
Pos kesehatan di bawah tenda itu dilengkapi enam tempat tidur, peralatan infus, serta satu unit EKG (electrocardiogram) untuk persoalan jantung dan berbagai obat serta peralatan medis lain untuk pertolongan pertama, pemeriksaan tekanan darah, dan lain-lain. Sebuah emergency ambulance juga diparkir di depan pos kesehatan itu.
“Lebih dari 200 pemudik yang sakit mengunjungi pos kesehatan yang dibuka selama 30 jam itu,” kata Benediktus Maria Abdianto, sekretaris rumah sakit serta koordinator pelayanan kesehatan itu. “Sebagian besar menderita tekanan darah tinggi, diabetes, persoalan jantung dan kelelahan. Satu bis umum harus berhenti di rest area itu selama 45 menit saat kami mengobati satu penumpangnya yang pingsan.”
Dia menambahkan bahwa pelayanan itu merupakan salah satu cara rumah sakit, yang berada di Bandung, itu merayakan ulang tahunnya yang ke-88. Rumah sakit itu didirikan oleh lima suster dari Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB) dari Belanda di tahun 1921 dengan fasilitas sederhana dan 17 tempat tidur. Sekarang rumah sakit itu memiliki 419 tempat tidur, 30 persen di antaranya untuk pasien yang miskin.
Kongregasi itu terlibat dalam karya kesehatan, pendidikan serta pelayanan pastoral dan sosial di Indonesia.
“Saat anggota staf yang lain merayakan ulang tahun itu di kapel rumah sakit dengan Misa yang dipimpin Uskup Bandung Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, kami berada di sini untuk melayani para pemudik,” kata Abdianto.
Pejabat rumah sakit itu menambahkan bahwa sesuai semangat Santo Carolus Borromeus, tim kesehatan itu melayani siapa saja dan semua pemudik yang membutuhkan pertolongan medis.
Yustina Maria Sri Sukma Heryani, dokter gigi yang bekerja di rumah sakit itu mengatakan kepada UCA News bahwa ia senang bisa memberikan pelayanan medis bagi umat Islam yang sedang mudik ke kampung halamannya. “Itu membuat saya senang,” katanya dengan senyum gembira.
Dia menambahkan bahwa para pemudik yang beragama Islam menanggapi positif pelayanan yang dia berikan. “Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka senang mengetahui bahwa ada rumah sakit Katolik yang memperhatikan mereka.”
Sebelum para pemudik meninggalkan rest area itu, pos kesehatan itu memberikan empat nomor hp untuk “hotline health service,” yang bisa mereka hubungi apabila mengalami masalah kesehatan di perjalanan.