JAKARTA (UCAN) – Baru-baru ini, para pejabat Gereja Katolik mengunjungi para pemimpin Muslim dan membicarakan bersama mereka cara anggota-anggota dari kedua agama itu bisa bekerja sama melayani masyarakat dan meningkatkan dialog antaragama.
Uskup Bandung Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, anggota dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, dan Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutip Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), melakukan kunjungan sekitar Idul Fitri. Pesta itu menandai berakhirnya Ramadhan, bulan suci Islam saat kaum Muslim berpuasa dari subuh hingga senja hari.
Topik yang dibicarakan adalah bagaimana organisasi-organisasi Katolik dan Islam bisa bekerja sama membantu orang miskin melalui program-program seperti Credit Union (CU). Para pemimpin itu juga sepakat untuk mengatasi terorisme dan upaya-upaya penggunaan agama untuk membenarkan kekerasan.
Uskup Pujasumarta dan Pastor Benny mengatakan bahwa para pemimpin Islam membuat mereka merasa disambut baik dalam kunjungan silaturahmi itu.
“Kehangatan hati menyambut kami membuat kami yakin bahwa persaudaraan sejati bukan impian di siang bolong,” kata uskup.
Indonesia merayakan Idul Fitri tanggal 20 dan 21 September. Di hari pertama, Uskup Pujasumarta mengunjungi walikota Bandung, ibu kota propinsi Jawa Barat yang mayoritas Muslim, dan juga gubernur serta wakil gubernur Jawa Barat. Ia mengunjungi juga beberapa pemimpin masyarakat dan agama, termasuk Haji Dedem Ruchlia, ketua Pusat Studi dan Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat.
Pastor Susetyo berada di Jawa Timur tanggal 20 hingga 22 September untuk mengunjungi berbagai tokoh Islam. Antara lain yang dikunjungi adalah Hasyim Muzadi, yang mengetuai Nahdlatul Ulama (NU), dan Ahmad Syafi’i Maarif, mantan ketua Muhammadiyah dan pendiri Maarif Institute for Culture and Humanity. Imam itu juga mengunjungi empat pesantren.
NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia dan Muhammadiyah yang kedua terbesar. Tahun 2008 Maarif menerima Penghargaan Ramon Magsaysay untuk kartegori Perdamaian dan Pemahaman Internasional.
Dalam kunjungan-kunjungan itu, para pemimpin Katolik dan Muslim membicarakan tentang kemiskinan, radikalisme agama serta rencana Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran, ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, untuk mengunjungi Indonesia tanggal 26 November.
Uskup Pujasumarta mengatakan, untuk menerima kehadirannya Dedem Ruchlia menyiapkan pesta taman untuk makan siang dalam kunjungannya selama lebih dari 90 menit itu. “Ia undang juga beberapa kerabat dan temannya untuk hadir, dan dalam pembincangan itu ia tegaskan perlunya membangun komunikasi dan kerja sama antara umat beragama di Indonesia.”
Pastor Susetyo mengatakan dia berharap kunjungan silaturahmi itu bisa menciptakan tali persaudaraan, dan dia “berbicara dengan Muzadi, Maarif serta pemimpin-pemimpin pesantren itu tentang kerja sama dalam mengatasi kemiskinan.”
NU sudah menjalin hubungan yang baik dengan beberapa paroki di pulau Jawa, katanya. “Namun, kita perlu meningkatkan kerja sama itu dengan kegiatan yang mampu menciptakan kebersamaan, khususnya untuk mengatasi kemiskinan, dengan sarana yang lebih efektif misalnya program CU serta pengembangan ekonomi masyarakat.”
Imam itu mengatakan bahwa dia dan pemimpin pesantren juga membicarakan isu-isu berkaitan dengan radikalisme agama yang saat ini berkembang di negara itu. “Kami melihat perlunya kesadaran bersama untuk mengatasi terorisme karena terorisme membajak ajaran agama untuk membenarkan kekerasan.”
Dia menambahkan bahwa satu topik khusus yang dibicarakan adalah persiapan kunjungan Kardinal Tauran, “yang disambut hangat kedatangannya oleh NU dan Muhammadiyah.”