RUTENG, NTT (UCAN) – Selama empat tahun, orang muda dari berbagai agama di Pulau Flores yang mayoritas Katolik bekerja keras untuk meningkatkan keharmonisan hubungan antaragama.
Hasil dari upaya itu tampak dalam perayaan Idul Fitri baru-baru ini.
Pada 19 September, lebih dari 3.000 Muslim di Reo, sebuah kota di Kabupaten Manggarai, mengadakan Malam Takbiran. Mereka mengadakan pawai keliling kota itu seraya mengumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an.
“Pengawalan dan pengamanan saat kami mengadakan pawai keliling kota menyambut 1 syawal 1430 hijriah ditangani oleh teman-teman mudika Reo dan pemuda Gereja Reo,” kata Ritha Udin, seorang perempuan muda beragama Islam yang ikut dalam pawai malam itu, kepada UCA News.
Sekitar 100 orang muda Katolik dari paroki disiagakan untuk mengamankan pawai itu.
Menurut Udin, orang muda memutuskan untuk meningkatkan hubungan antaragama yang lebih baik empat tahun lalu. Sebelumnya, pertikaian antara kaum muda dari agama yang berbeda terjadi beberapa kali, dan ia mengakui orang muda Muslim dulu khawatir ketika mengadakan Malam Takbiran karena takut diserang.
“Sejak empat tahun lalu, suasana mencair dan hubungan antar umat beragama semakin harmonis sehingga kami berani menjalankan pawai takbiran,” kata Udin.
Gregorius Harapan, salah satu dari penjaga keamanan, mengatakan kepada UCA News bahwa ia dan orang muda Katolik lain ikut terlibat dalam gerakan kerja sama lintas agama itu sejak awal. “Hubungan dan kerja sama di antara kami sangat harmonis dan baik,” katanya.
Sebelum pawai malam, umat Katolik, Hindu dan Protestan bekerja sama menyiapkan makanan buka puasa, yang diadakan di aula Mesjid Nurul Janah, di kota itu.
“Yang mengatur kursi, menata bunga dan menyiapkan gedung ini adalah warga yang beragama Katolik,” kata Remigius Harum, camat Reo.
Orang muda Katolik juga menampilkan sebuah paduan suara selama acara itu, yang diikuti sekitar 500 orang muda Muslim. Pastor Yohanes Djuang Somi SVD, kepala paroki Reo, dan Imam Ahmad Usman, seorang imam mesjid, juga hadir dalam acara itu.
“Betapa indah dan damainya kebersamaan,” kata Imam Usman kepada para peserta. Ia juga berbicara tentang hakekat silaturahmi, untuk membangun persatuan di kalangan berbagai elemen masyarakat di kota itu.
“Kebersamaan itu sesuatu yang penting,” kata Pastor Somi mengakui. Ia mengatakan kepada UCA News ia memberikan dukungan kepada orang muda Katolik pada pawai malam itu dan acara buka puasa.
Harum mengatakan kota itu membutuhkan “dialog kehidupan” seperti ini.
Jenis dialog ini tidak berupa kata-kata, ”tapi nyata dalam perbuatan,” kata umat Katolik awam itu. ”Bersama dalam satu kegiatan itu jauh lebih bermakna daripada sebuah debat intelektual.”