TOKYO (UCAN) – Bahkan di Jepang, buku-buku dan film dari seri “The Chronicles of Narnia” karya C.S. Lewis cukup populer. Berbagai terjemahan buku-buku itu dalam bahasa Jepang tersedia selama bertahun-tahun dan versi film dari dua dari buku-buku itu telah menjadi kesuksesan besar.
Salah satu dari buku-buku itu, “The Horse and His Boy,” adalah tentang Shasta, seorang bocah laki-laki dari seorang nelayan miskin di sebuah kampung yang kejam yang disebut Calormen. Namun, dia sesungguhnya seorang pangeran dari sebuah negara lain. Buku itu bercerita tentang pengalamannya dan bagaimana dia menemukan keluarganya dan identitasnya yang sejati.
Kebanyakan orang-orang dunia ini seperti Shasta. Mereka mengira bahwa mereka tinggal di suatu dunia yang kejam. Mereka mengira bahwa ketidakadilan, penderitaan, dan kematian merupakan kisah nyata dari dunia ini.
Tentu saja, mereka memiliki alasan untuk berpikir demikian. Memang ada banyak ketidakadilan, kemiskinan, dan penderitaan di dunia ini. Kita menderita kesakitan fisik karena cedera dan penyakit. Kita menderita kepedihan emosional karena kesepian dan kehilangan persahabatan. Kita menderita sakit rohani karena menghadapi masa depan yang tidak diketahui. Kita dan semua orang yang kita cintai akan mati.
Tetapi ada orang-orang yang tahu sebaliknya. Mereka tahu bahwa mereka adalah anak-anak terkasih dari Allah. Mereka tahu bahwa alam semesta ini adalah anugerah bagi anak-anak Allah. Mereka tahu bahwa Allah mengasihi mereka dengan kasih tanpa syarat. Mereka tahu bahwa bahkan kematian tidak lebih kuat dari kasih Allah. Mereka tahu bahwa mereka adalah pangeran-pengeran dan putri-putri Kerajaan Allah. Mereka itu adalah orang Kristen. Mereka juga tahu bahwa setiap manusia yang lain yang pernah hidup juga adalah seorang pangeran, seorang putri.
Dunia menderita sebab orang tidak tahu dan mengizinkan diri mereka sendiri, mereka lupa siapa mereka sesungguhnya. Jika kita sadar siapa kita dan di antara siapa kita hidup, maka apakah kita masih terus memperlakukan orang lain dan diri kita sendiri seperti yang banyak dilakukan orang? Apakah dunia akan sedemikian dirusak oleh dosa, rasa takut, dan egoisme sebagaimana adanya?
Semua orang punya hak untuk tahu siapa mereka sesungguhnya. Kita umat Kristen punya tugas untuk menunjukkan itu kepada mereka. Inilah tuntutan terakhir dari keadilan.
Minggu misi, yang jatuh pada 18 Oktober tahun ini, merupakan hari untuk sadar bahwa di mana saja orang Kristen berada, itulah tempat untuk melakukan evangelisasi. Itu bisa di tanah asing atau di negeri kita sendiri. Itu bisa dalam berbagai lembaga Gereja atau di rumah kita sendiri.
Di mana saja saya berada, saya dapat memperlakukan orang lain sebagai pangeran dan putri. Saya dapat menunjukkan kepada mereka cinta Bapa mereka dan mengajak mereka untuk percaya bahwa mereka sesungguhnya pangeran dan putri dari Kerajaan Allah.
Dalam pesannya untuk Minggu Misi 2009, Paus Benediktus XVI mengatakan: “Tujuan misi Gereja adalah menerangi semua orang dengan terang Injil saat mereka berziarah menuju Allah, sehingga di dalam Allah sajalah mereka dapat meraih potensi mereka sepenuhnya dan kepenuhan. Kita perlu memiliki kerinduan dan kekuatan untuk menerangi semua orang dengan terang Kristus yang bersinar pada wajah Gereja, sehingga semua orang bisa berkumpul dalam satu keluarga manusia, berlandaskan cinta kebapaan dari Allah.”
Misi Gereja harus menjadi bukti tentang “potensi sepenuhnya dan kepenuhan” dari setiap pribadi. Dalam doa, ajaran, dan pelayanan kita, kita hendaknya hidup sebagai anak-anak Allah yang punya keyakinan. Keyakinan itulah yang menarik dan menular. Kita hidup dengan gembira dan penuh pengharapan karena kita mengetahui hal itu seperti kisah Shasta yang berakhir dengan menemukan keluarga sejatinya, dan semua orang dipanggil untuk mengetahui keluarga sejati mereka, anak-anak dari Allah Bapa.
—-
Pastor William Grimm MM adalah mantan editor-in-chief dari ” Katorikku Shimbun,”