HO CHI MINH CITY, Vietnam (UCAN) – Marie Nguyen Thi Thien Kim secara rutin mengunjungi kapel adorasi di pelataran Gereja Tan Dinh di kota di bagian selatan Vietnam ini.
“Saya memanfaatkan satu jam sehari berlutut di depan Sakramen Mahakudus,” kata Kim, seorang umat Paroki Tan Dinh. “Saya belajar mencintai orang ketika saya merenungkan sengsara Yesus.”
Perempuan berusia 30 tahun yang menyumbangkan darah pada acara donor darah yang dikelola paroki bagi pasien miskin itu berada antara banyak umat Katolik. Umat Katolik mengatakan bahwa adorasi Ekaristi yang teratur telah meneguhkan dan mengilhami untuk melayani orang lain, khususnya orang yang kurang beruntung.
Marthar Truong Thi Thong mengatakan kehidupan imannya meningkat setelah dia mulai mengunjungi kapel adorasi Tan Dinh tiga tahun lalu. Sebelumnya, dia hanya menghadiri Misa pada hari Minggu dan hari-hari dalam sepekan itu digunakan untuk mencari uang, katanya.
Kini ia menyumbangkan 200.000 dong (US$11) per bulan untuk sebuah dapur umum di lingkungan parokinya. “Menghayati Ekaristi berarti mencintai dan melayani sesama, khususnya yang miskin dan yang terabaikan,” kata Thong, 53, yang berasal dari Paroki Go Vap.
Kim dan Thong berada antara ratusan umat Katolik yang mengunjungi kapel adorasi secara teratur 24 jam. Selama sesi-sesi doa satu jam, mereka mendaraskan rosario, berdoa untuk Kerahiman Ilahi, menyanyikan lagu-lagu pujian, atau sebaliknya berdoa dalam keheningan.
Pastor Jean Baptiste Vo Van Anh, kepala paroki itu, mengatakan bahwa kapel adorasi itu dibangun tahun 1998 “untuk memberi kesempatan kepada umat Katolik setempat mendekatkan diri kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus.” Mereka juga diajak untuk ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan amal untuk membantu orang miskin, yang juga citra Allah, kata imam berusia 70 tahun itu.
Untuk membantu umat agar lebih menghayati adorasi Ekaristi itu dalam kehidupan mereka, Pastor Anh mengatakan bahwa paroki mengadakan donor darah dua kali setahun dan memberikan pakaian, makanan, dan bantuan lain untuk orang miskin dan orang jalanan.
Sebuah klinik di lingkungan paroki itu memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi para pasien miskin, tambahnya. Dapur umum paroki itu, berada dekat kapel adorasi itu, juga menyediakan makan siang gratis setiap hari kepada sekitar 200 orang jalanan, orang cacat, dan anak yatim-piatu.
Umat Katolik setempat menyumbangkan dana untuk proyek amal ini dan beberapa umat lainnya menjadi relawan untuk bekerja di fasilitas-fasilitas paroki itu, kata imam itu.
Marie Nguyen Ngoc Chi, 64, adalah salah satu pelayan dapur umum itu. Ia mengatakan, ia berterima kasih kepada umat Katolik setempat yang menyediakan makan siang gratis untuk dirinya. Pada waktu lalu, wanita itu hanya makan nasi dan garam karena ia tidak punya uang, katanya mengenang.
Setelah makan, Chi mengunjungi kapel adorasi, tempat ia berdoa rosario dan menyanyikan lagu-lagu kepada Hati Kudus Yesus.
Jean Baptiste Kardinal Pham Minh Man dari Ho Chi Minh City dalam pesannya tertanggal 9 September kepada umat Katolik mengatakan bahwa meski berbagai kegiatan Gereja di Vietnam harus terbatas pada lingkungan Gereja, “umat Katolik setempat memiliki kebebasan untuk berdoa dan menyembah Yesus … dalam Ekaristi.”
Ia menambahkan, “Kami akan meningkatkan devosi kami kepada Yesus dan mengikuti teladan-Nya dalam berdoa, melaksanakan sabda Allah, serta mencintai dan melayani sesama.”
Ia mencatat bahwa lebih dari 30 paroki setempat melakukan adorasi Ekaristi 24 jam di kapel-kapel dan banyak kelompok awam ikut dalam bentuk devosi ini.