Kolom UCAN
KOTA VATIKAN (UCAN) – Sinode untuk Afrika menyambut baik permintaan seorang uskup agung Asia untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan di antara para uskup dari negara-negara sedang berkembang tentang cara menyelesaikan masalah-masalah sama yang mereka hadapi.
Dalam komunike terakhir sinode itu, mereka setuju untuk menerima himbauan yang disebut kerjasama “Selatan-Selatan” di kalangan Gereja di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
“Kami yakin, kita bisa memperoleh banyak keuntungan tidak hanya dengan mengkompromikan catatan tertulis, tetapi juga dengan bergandengan tangan,” demikian komunike itu. “Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita arah ke sana.”
Dalam sinode itu, Uskup Agung Orlando B. Quevedo, Sekretaris Jenderal Federation of Asian Bishops Conferences (Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia) meminta sebuah badan Vatikan untuk menyelenggarakan pertemuan para uskup dari negara maju dan negara sedang berkembang – yang disebut celah Utara-Selatan – di tahun 2010.
Dia juga mengusulkan sebuah dialog lain yaitu dialog Selatan-Selatan. Usul ini akhirnya diterima.
Uskup Agung Quevedo mengatakan, tujuannya adalah “menanggapi isu-isu mendesak yaitu rekonsiliasi, keadilan, dan perdamaian dari sudut pandang moralitas dan iman keagamaan.”
Sinode memasukan bagian “Selatan-Selatan” dari usul uskup agung itu, walaupun sinode belum menspesifikasi cara-cara mencapainya. Mungkin itu akan digarap kemudian.
Bagian utama komunike tentang Afrika itu mengutuk keras para pemimpin politik yang korup di benua itu dan banyak umat Katolik yang menduduki jabatan puncak yang melalui pemerintahannya yang buruk memberi “suatu nama yang buruk bagi Gereja Katolik.”
Komunike itu juga membidik berbagai perusahaan multinasional yang beroperasi di benua itu dan berjanji bahwa Gereja Afrika akan bergandengan tangan dengan para uskup Asia dan Amerika Latin untuk memerangi persoalan yang sama.
“Banyak umat Katolik di posisi puncak jatuh secara memalukan karena prestasi mereka yang buruk,” demikian komunike akhir sinode yang mengacu pada Presiden Zimbabwe Robert Mugabe, dan Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos. Keduanya dibaptis Katolik.
Komunike itu menghimbau mereka untuk “bertobat dan menarik diri dari arena publik dan berhenti menimbulkan kekacauan di masyarakat dan tidak lagi memberi nama buruk kepada Gereja Katolik.”
Afrika itu kaya akan sumber daya alam dan manusia, namun banyak dari rakyatnya hidup dalam “kemiskinan, penderitaan, perang dan konflik, krisis dan kekacauan.” Mereka dipimpin oleh para politisi “yang tidak mempedulikan kesejahteraan bersama” dan dikendalikan oleh kekuasaan dan ketamakan, demikian komunike itu.
Sinode itu mengatakan, para politisi korup terlibat dalam “konspirasi kriminal” dan “kolusi yang memalukan” dengan berbagai kepentingan asing, termasuk perusahaan-perusahaan multinasional yang kuat.
Perusahaan-perusahaan ini harus “menghentikan pengrusakan lingkungan hidup yang bersifat kriminal dalam eksploitasi sumber daya alam yang mereka lakukan dengan penuh ketamakan, demikian komunike akhir sinode itu.
“Itulah kebijakan jangka pendek yang memicu perang guna menciptakan kekacauan secara cepat, dengan mengorbankan kehidupan dan darah manusia.”
Sinode selama tiga pekan yang berakhir 24 Oktober itu juga menyetujui sebuah buku kecil berisi 57 proposisi atau “proposal konkret” yang dipandang “sangat penting” oleh sinode.
Paus Benediktus XVI mensahkan segera setelah propositions (proposisi-proposisi) itu dikeluarkan.
Di akhir pertemuan itu, paus mengumumkan bahwa dia menunjuk Peter Kardinal Turkson, 61, dari Ghana, seorang pakar Kitab Suci, sebagai Ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian yang baru, yang akan menjadi satu-satunya orang Afrika yang memimpin sebuah kantor Kuria Roma.
Pada hari Minggu, 25 Oktober, Paus secara resmi menutup sinode itu dengan Misa agung yang dinyanyikan dalam bahasa Latin, yang diselang-selingi dengan musik dan puji-pujian Afrika.
————-
Gerard O’Connell meliput Vatikan sebagai seorang koresponden untuk UCA News dan organisasi-organisasi berita yang lain.