NEW DELHI (UCAN) – Kaum Religius India menyelenggarakan serangkaian program pelatihan untuk turut meningkatkan kualitas kepemimpinan umat mereka dan untuk menangani berbagai konflik dan kekerasan.
“Waktunya telah tiba bagi para pemimpin kita untuk diperlengkapi dengan lebih baik guna menangani berbagai konflik karena kita baru saja mengalami kekerasan sektarian di negeri ini,” kata Bruder Mani Mekkunnel, seorang anggota Tarekat Para Bruder Monfortan, sekretaris nasional Konferensi Religius India (CRI, Conference of Religious India).
Konferensi itu merupakan asosiasi nasional dari 822 superior dari 334 kongregasi religius di India.
Sekitar 450 religius pernah menghadiri program pelatihan CRI selama tiga tahun terakhir. Setiap program dengan judul “Call to leadership” berlangsung selama lima hari.
Program pelatihan terakhir yang diikuti oleh 22 peserta itu diselenggarakan di New Delhi 20-25 Oktober. Program itu dimaksud agar kaum religius dapat memimpin desa dan komunitas untuk memulai berbagai dialog lintas agama melalui berbagai program yang melibatkan semua agama.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah para pemimpin aksi, bukan pengamat bisu,” kata Bruder Mekkunnel kepada UCA News. Kaum religius, lanjutnya, hendaknya menjadi pemimpin dalam menemukan penyelesaian terhadap berbagai persoalan seperti kekerasan dan sektarianisme.
Bruder Mekkunnel mengatakan, fanatisme agama yang tengah meningkat sekarang ini tidak membutuhkan “kepala sekolah, dokter, dan perawat yang baik” dari kaum religius, tetapi “para pemimpin yang baik.”
Gereja memiliki “banyak orang terdidik dan berkualitas,” katanya, namun banyak kali ketika dibutuhkan, “kita sangat menyesal karena tidak ada yang mau.”
Dia mencontohkan kekerasan anti-Kristen tahun lalu di Orissa, tempat sekitar 90 orang Kristen dibunuh dan 50.000 lainnya kehilangan tempat tinggal. “Tak seorang pun yang menuntun atau membela kita,” katanya.
Bruder R. Amaldas dari Kongregasi Hati Kudus Yesus, yang mengikuti program pelatihan terakhir, mengatakan kepada UCA News, pelatihan itu memberinya “suatu pemahaman akan spiritualitas religius modern.”
Pelatihan itu meyakinkan dia, katanya, bahwa “pertumbuhan spiritual” juga berarti tidak meninggalkan manusia dalam penderitaan. “Kita harus bersama mereka dalam kebahagiaan dan kesedihan mereka. Kita juga bahkan harus mengikuti cara mereka berdoa,” lanjutnya.
Program pelatihan itu memberi kesempatan untuk membicarakan skenario sekarang ini, apakah pertukaran atau peminjaman pandangan, kata Bruder Amaldas.
Suster Lilly Kuriakose, peserta lain, mengatakan bahwa sangat sering di banyak rumah pembinaan “kita mengikuti saja formula yang sudah jadi.” Ketimbang memberi para anggota baru “kebebasan untuk mengekspresikan diri mereka, kita menjejali mereka dengan apa yang kita miliki.”
Suster dari Tarekat Santo Carolus Boromeus itu mengatakan, program itu menekankan perlunya memberi kesempatan kepada orang untuk menemukan sendiri.
Yang paling disukai Suster Kuriakose adalah kelas-kelas tentang masalah hukum, yang memberi lebih banyak masukan menganai hak asasi manusia kepadanya. “Paling tidak, kini saya tahu di mana dan siapa yang harus dihubungi jika menghadapi kasus pelanggaran hak asasi manusia,” lanjutnya.
Bruder Mekkunnel mengatakan, program itu meningkatkan keyakinan para peserta dan membuat mereka bersemangat untuk menyelesaikan berbagai masalah yang mereka hadapi di lapangan pekerjaan mereka.