LOIKAW , Myanmar (UCAN) – Korban perkosaan dan incest, mantan pekerja seks, dan para ibu yang tidak menikah mendapat perhatian dan bantuan yang dibutuhkan dari sebuah kelompok para suster di kota terpencil di bagian barat laut ini.
Penyembuhan trauma menjadi prioritas utama, kata para suster dari Tarekat Gembala Baik. “Kami melakukan yang terbaik untuk merehabilitasi mereka,” kata Suster Htoo Htoo, dari biara tarekat itu di Loikaw.
Proses penyembuhan, katanya, meliputi meditasi, bimbingan spiritual, sharing kelompok, dan pendampingan personal.
Para suster Gembala Baik merawat 11 perempuan usia 18 hingga 25 tahun, di biara mereka. Lima dari perempuan-perempuan itu datang bersama anak mereka.
Satu dari mereka itu adalah Pauline, 23, yang diperkosa oleh pamannya ketika berusia 15 tahun. Ketika bibinya tahu bahwa Pauline hamil dari suaminya, bibinya mengusirnya sehingga dia terpaksa hidup di jalanan.
Pauline kemudian pergi ke biara para suster itu untuk melahirkan bayinya di sana. Dia kini tinggal di luar biara itu dan mengatakan bahwa hidupnya perlahan-lahan berubah, tetapi dia juga bercerita bagaimana dia memerangi rasa marah dan depresi yang menggerogotinya.
“Cukup banyak waktu saya gunakan untuk mengatasi berbagai kesulitan saya,” katanya. “Di biara para suster ini, saya sangat marah ketika melihat orang-orang lain. Kadang-kadang, saya tidak bisa berhubungan baik dengan perempuan-perempuan yang lain.”
Para suster mengajarkan Pauline keterampilan jahit-menjahit dan dia telah membeli sebuah mesin untuk berusaha mencari nafkah dan mendidik anaknya, Dia juga membuat rosario dan tetap berkontak erat dengan para suster.
“Saya bermeditasi setiap malam untuk penyembuhan trauma saya,” katanya.
Perempuan muda lain, Rose, 18, bekas pelacur di perbatasan Myanmar-Thailand, tinggal bersama ibunya selama lima tahun.
Kini dia tinggal di biara itu dan belajar menjahit. “Saya sangat bahagia di sini dan para suster memperlakukan kami sebagai anak-anak mereka sendiri. Tetapi kadang-kadang, saya merindukan ibu saya,” katanya dengan rasa sedih.
Kehidupan perempuan-perempaun ini memang berat, dan beberapa bahkan pernah ingin bunuh diri.
Sweety 30, seorang warga etnis Kayar, mengatakan bahwa dia menghadapi banyak tantangan sejak hamil. Sebelum datang ke biara para suster, dia pernah ingin bunuh diri karena merasa tak seorangpun memperhatikannya.
Saudari-saudarinya melarang keras agar dia berhubungan dengan seorang pria yang sudah menikah, yang kini berada di penjara.
Para suster Gembala Baik di sini mengatakan bahwa mereka telah menolong 73 perempuan dalam berbagai situasi sulit sejak 1990.
Santa Mary Euphrasia Pelletier memulai Kelompok Religius Perawan Cinta Kasih dari Gembala Baik tahun di Prancis. Tarekat itu tiba di Myanmar tahun 1866. Di sini, tarekat itu memiliki 42 suster, dua novis, dan enam postulant di lima keuskupan. Di seluruh dunia ada lebih dari 5.000 suster Gembala Baik yang melayani di 71 negara.