KATHMANDU (UCAN) — Kathmandu penuh dengan kuil-kuil Buddha dan Hindu. Udara kadang-kadang penuh dengan kabut dupa dan dahu banyak orang ditandai dengan tika, pasta beras yang diberi warna merah, setelah berdoa.
Bagi orang-orang muda Katolik di negara Hindu di wilayah pengunungan Himalaya ini, penghayatan iman mereka dapat sering menjadi tanggungjawab yang secara sosial menakutkan.
Mhendo Tamang, 18, seorang umat Paroki Maria Diangkat ke Surga, paroki utama di Kathmandu, mengatakan bahwa dia sering ikut teman-temannya bila mereka mengunjungi kuil-kuil Hindu untuk memberi sesaji.
Namun remaja putri itu merasa enggan bila tiba saat baginya untuk mengungkapkan iman kepercayaannya sendiri.
“Terakhir kali saya mengungkapkan iman saya kepada teman-teman saya, mereka tersenyum dan menatap saya seakan-akan saya ini orang asing,” katanya.
Manaisha Shakya, 19, menghadapi masalah serupa. Dia mengatakan, dia ingin membicarakan imannya dengan teman-temannya yang Buddha dan Hindu, tetapi harus berpikir dua kali sebelum melakukannya. “Mereka nampaknya tidak tertarik dengan apa yang saya katakan,” katanya.
“Saya merasa bahwa agama Kristen tidak ada di Nepal; selalu yang didengar dan dibicarakan orang hanyalah agama Hindu.”
Sadar akan situasi orang muda ini, Gereja mengadakan sebuah retret selama 23-25 Oktober untuk turut meningkatkan pembinaan rohani mereka.
“Retret semacam itu telah diselenggarakan sejak dua tahun lalu,” kata Kishore Shrestha, pemimpin Gerakan Kaum Muda Katolik Nasional (NCYM, National Catholic Youth Movement) di Kathmandu. “Gerakan kaum muda di Nepal ini diliputi sejumlah persoalan, antara lain pendanaan, dan gerakan ini tidak memiliki fasilitator hampir selama dua tahun,” katanya.
Namun, tahun ini kami bisa mencari dana dan menyelenggarakan retret ini.”
Retret di Paroki Ishalaya di Godavari itu dihadiri oleh 51 orang muda dari tiga paroki di Kathmandu. Mereka menonton film santo-santa, mengaku dosa, dan terlibat dalam pertemuan-pertemuan meditasi.
Peserta mengatakan, mereka sangat menikmati retret itu. “Saya suka dengan cara kita berkumpul, berdoa, dan berbagi gagasan,” kata Muna Ghale dari Baniyatar, sambil menambahkan bahwa dia belajar cara mendekatkan diri lebih erat kepada Yesus.
Priyanka Dawadi, seorang peserta lain, mengatakan kepada UCA News, “Saya menyukai retret dan perasaan berada bersama Yesus dalam keheningan.”
Pastor Robin Rai, pastor pembantu di Gereja Maria Diangkat ke Surga, menjelaskan adanya jarak yang lama antara dua retret.
“Orang-orang muda Katolik berinisiatif, namun dalam dua tahun terakhir tidak ada kegiatan apapun,” kata imam yang menjadi fasilitator utama acara itu.
Orang-orang muda di Nepal menghadapi banyak tantangan.
Kurangnya pendidikan dan lapangan pekerjaan itu ternyata semakin diperparah dengan iklim politik dan keagamaan yang kurang mendukung bagi keterbukaan iman seseorang, terutama jika Anda seorang Kristen.
Ledakan bom di Gereja Maria Diangkat ke Surga pada 23 Mei merupakan suatu ancaman dari kelompok ekstrimis Hindu seperti Tentara Pembela Nepal (NDA, Nepal Defense Army), yang mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu yang menewaskan tiga orang. NDA kemudian memerintah orang Kristen untuk meninggalkan Nepal atau menghadapi konsekuensi yang mengerikan.
Pastor Rai mengakui, memang tidaklah gampang menjadi seorang Katolik di Nepal dewasa ini. Namun, walaupun banyak tantangan yang mereka hadapi, kaum muda Katolik masih “perlu dikuatkan untuk mampu mengungkapkan hal-hal yang mungkin tampak aneh bagi para penganut agama lain dan inilah tantangan bagi kita semua.”
“Mereka butuh bimbingan rohani dan hal ini juga sulit; kebanyakan dari mereka tidak menganggap hal itu serius,” katanya.
Dia mengungkapkan harapannya bahwa retret itu bisa menolong mereka untuk menyadari berbagai tanggung jawab mereka.
Bagi Shrestha, pemimpin kaum muda. Retret ini “lebih bermanfaat dan spiritual” dibandingkan dengan retret yang lalu. “Rasanya baik bisa kembali bersama Allah setelah cukup lama berselang,” katanya.