JAKARTA (UCAN) — Seorang wanita Muslim bercerita bagaimana ia menjawab kesalahpahaman rekan-rekannya ketika ia bergabung dengan sebuah kelompok Katolik yang memberikan pelayanan kepada orang miskin dan jompo di Jakarta.
“Niat saya pada waktu itu adalah untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan,” kata Delly, 63, yang bergabung dengan Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) tahun 2004.
Keputusan tersebut membuat para sahabatnya merasa heran. ”Mereka cemas akan kristenisasi, tapi saya bilang supaya mereka datang sendiri dan melihat apa yang saya lakukan bersama anggota KKIT,” kata Delly pada sebuah forum dalam rangka memperingati kehidupan Santa Teresa dari Kalkuta tanggal 21 November di aula Gereja Johanes Penginjil, Jakarta Selatan.
KKIT, tegas Delly, mempunyai tujuan yang tulus. Anggota organisasi ini – yang merupakan bagian dari Asosiasi Internasional Kerabat Kerja Ibu Teresa – berkomitmen untuk berdoa setiap hari dan bekerja bagi orang miskin, setidaknya sekali seminggu.
Kelompok Indonesia saat ini berjumlah 206 orang dan sebagian besar awam Katolik. Mereka mulai berkarya pada tahun 1985 dengan mengunjungi orang sakit, miskin dan jompo.
Tahun 1992, kelompok ini membangun sebuah rumah dengan nama Wisma Sahabat Baru, yang berfungsi sebagai persinggahan sementara bagi orang sakit yang tidak mampu membayar.
Seorang penghuni wisma itu, Benediktus Bejo, 37, menderita lumpuh sejak 18 bulan lalu akibat kecelakaan mobil. Pria ini mengaku temannya membawa dia ke sebuah rumah sakit namun ia tidak sanggup membayar biaya 12 juta rupiah per bulan.
Namun ia bertemu seorang anggota KKIT yang kemudian membawa dia ke wisma yang berada di Jakarta Barat.
“Saya merasa beruntung dan bersyukur bisa ditampung di wisma ini. Orang-orangnya sangat ramah. Mereka memandikan dan memberi saya makan beserta pasien lainnya,” tutur Bejo warga Paroki St. Antonius Padua Jakarta Timur.
”Selama saya di sini tidak ada keluarga saya yang datang mengunjungi. Namun saya senang karena setiap minggu ada banyak anak muda Katolik dan anggota Legio Maria yang datang mengunjungi saya. Mereka membuat saya semangat,” katanya dengan senyum.
Kendati Kongregasi Suster Misionaris Cinta Kasih yang didirikan Ibu Teresa tidak ada di Indonesia, namun Maria Theresia Soewadji, koordinator kelompok itu, mengatakan KKIT dibentuk atas permintaan Ibu Teresa sendiri yang prihatin dengan kemiskinan di Indonesia.
Sembilan anggota KKIT kini merawat enam pasien yang menderita lumpuh, serangan jantung, dan diabetes, serta 11 orang jompo. Sejumlah dokter juga memberikan pengobatan.
“Kami mengobati dan memenuhi kebutuhan mereka setiap hari. Dan kalau sudah cukup sehat, kami mengirim mereka kembali ke keluarga mereka,” kata Soewadji.
Pastor Telephorus Krispurwana Cahyadi SJ, selaku pendamping rohani KKIT Jakarta, memuji karya kelompok itu. “Ini sebagai peluang bagi orang awam untuk mewujudkan imannya,” katanya kepada UCA News. ***
JAKARTA (UCAN) — Seorang wanita Muslim bercerita bagaimana ia menjawab kesalahpahaman rekan-rekannya ketika ia bergabung dengan sebuah kelompok Katolik yang memberikan pelayanan kepada orang miskin dan jompo di Jakarta.
“Niat saya pada waktu itu adalah untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan,” kata Delly, 63, yang bergabung dengan Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) tahun 2004.
Keputusan tersebut membuat para sahabatnya merasa heran. ”Mereka cemas akan kristenisasi, tapi saya bilang supaya mereka datang sendiri dan melihat apa yang saya lakukan bersama anggota KKIT,” kata Delly pada sebuah forum dalam rangka memperingati kehidupan Santa Teresa dari Kalkuta tanggal 21 November di aula Gereja Johanes Penginjil, Jakarta Selatan.
KKIT, tegas Delly, mempunyai tujuan yang tulus. Anggota organisasi ini – yang merupakan bagian dari Asosiasi Internasional Kerabat Kerja Ibu Teresa – berkomitmen untuk berdoa setiap hari dan bekerja bagi orang miskin, setidaknya sekali seminggu.
Kelompok Indonesia saat ini berjumlah 206 orang dan sebagian besar awam Katolik. Mereka mulai berkarya pada tahun 1985 dengan mengunjungi orang sakit, miskin dan jompo.
Tahun 1992, kelompok ini membangun sebuah rumah dengan nama Wisma Sahabat Baru, yang berfungsi sebagai persinggahan sementara bagi orang sakit yang tidak mampu membayar.
Seorang penghuni wisma itu, Benediktus Bejo, 37, menderita lumpuh sejak 18 bulan lalu akibat kecelakaan mobil. Pria ini mengaku temannya membawa dia ke sebuah rumah sakit namun ia tidak sanggup membayar biaya 12 juta rupiah per bulan.
Namun ia bertemu seorang anggota KKIT yang kemudian membawa dia ke wisma yang berada di Jakarta Barat.
“Saya merasa beruntung dan bersyukur bisa ditampung di wisma ini. Orang-orangnya sangat ramah. Mereka memandikan dan memberi saya makan beserta pasien lainnya,” tutur Bejo warga Paroki St. Antonius Padua Jakarta Timur.
”Selama saya di sini tidak ada keluarga saya yang datang mengunjungi. Namun saya senang karena setiap minggu ada banyak anak muda Katolik dan anggota Legio Maria yang datang mengunjungi saya. Mereka membuat saya semangat,” katanya dengan senyum.
Kendati Kongregasi Suster Misionaris Cinta Kasih yang didirikan Ibu Teresa tidak ada di Indonesia, namun Maria Theresia Soewadji, koordinator kelompok itu, mengatakan KKIT dibentuk atas permintaan Ibu Teresa sendiri yang prihatin dengan kemiskinan di Indonesia.
Sembilan anggota KKIT kini merawat enam pasien yang menderita lumpuh, serangan jantung, dan diabetes, serta 11 orang jompo. Sejumlah dokter juga memberikan pengobatan.
“Kami mengobati dan memenuhi kebutuhan mereka setiap hari. Dan kalau sudah cukup sehat, kami mengirim mereka kembali ke keluarga mereka,” kata Soewadji.
Pastor Telephorus Krispurwana Cahyadi SJ, selaku pendamping rohani KKIT Jakarta, memuji karya kelompok itu. “Ini sebagai peluang bagi orang awam untuk mewujudkan imannya,” katanya kepada UCA News. ***