HO CHI MINH CITY, Vietnam (UCAN) – Sebanyak 1.700 umat Katolik Vietnam mengikuti kursus pendalaman iman yang diselenggarakan Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ho Chi Minh City
Menurut Uskup Pierre Nguyen Van Kham, mereka dengan penuh semangat mengikuti kelas malam yang diselenggarakan sepanjang minggu.
Sementara sebanyak 650 katekis, anggota dewan paroki, serta pembina hubungan perkawian, mengikuti kursus pada akhir pekan, dan sebanyak 220 biarawati mengikuti pelajaran teologi dan Kitab Suci.
“Pusat pastoral ini sangat aktif dalam memberikan informasi kepada pemimpin awam baik dari paroki-paroki setempat, kelompok maupun asosiasi Katolik, karena tidak ada sekolah Katolik di negara kami,” kata Uskup Kham, selaku uskup pembantu dan juga Ketua Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Vietnam, kepada UCA News
Dia menuturkan, sekolah-sekolah dan institusi milik Gereja semuanya ditutup setelah negara tersebut dikuasai komunis pada tahun 1975. Semenjak itu tidak ada agama yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan umum.
Pusat pastoral ini memberikan kursus antara lain dalam bidang katekese, musik gereja, liturgi, Kitab Suci, teologi dan pelayanan gereja.
Uskup Kham, yang menyelesaikan pendidikannya di Catholic University of America, AS, mengatakan sekarang banyak imam serta biarawan dan biarawati dikirim ke luar negeri untuk belajar, setelah pemerintah melonggarkan larangan terhadap agama.
Pusat pastoral Keuskupan Agung Ho Chi Minh dibangun tahun 2004 lalu setelah pemerintah mengembalikan lahan sebuah seminari menengah kepada Gereja. Dan sejak saat itu bangunan baru didirikan.
Bangunan tersebut baru-baru ini digunakan oleh Komisi Pendidikan dan Pembinaan Iman Konferensi Para Uskup Asia untuk membina 41 pendidik, serta kepala sekolah dan pusat pendidikan Katolik dari 10 negara di Asia.
Pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan 22-26 Oktober tersebut membahas langkah-langkah pengelolaan, strategi pembaharuan dan kegiatan sosial bagi pusat-pusat pendidikan yang dijalankan oleh Gereja.
Mereka juga membahas tentang bagaimana cara agar semangat Ekaristi dapat diterapkan dalam aksi Gereja di berbagai ruang lingkup politik dan ekonomi di Asia. ***