JAKARTA (UCAN) — Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Jean-Louis Kardinal Tauran mengadakan kunjungan ke Istiqlal, sebuah masjid terbesar di Asia Tenggara, sebagai bagian dari kunjungan resmi pertamanya selama sepekan di Indonesia.
Tanpa alas kaki, sebagaimana layaknya Muslim pada saat berdoa di masjid, Kardinal Tauran yang didampingi, Kardinal Julius Darmaatmadja, Uskup Koajutor Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Keuskupan Agung Jakarta serta Uskup Bandung Mgr.Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, yang juga anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragam, disambut dengan hangat oleh Imam Masjid Kiai Haji Syarifuddin Muhammad.
Sejumlah pejabat dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) juga ikut ambil bagian dalam kunjungan pada 25 November itu.
“Masjid ini bukan hanya milik umat Islam tapi juga penganut agama-agama lain. Siapa pun boleh berkunjung ke tempat ini,” kata imam masjid itu.
Masjid nasional, yang bisa menampung lebih dari 100.000 orang itu, terletak berhadapan dengan Gereja Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta Pusat. Atap aula doa utama masjid berbentuk kuba dengan diameter 45 meter yang ditopang oleh 12 tiang besar.
“Baru kali ini saya merasakan suasana bertetangga yang tulus. Ini menandakan tidak ada jarak antara umat Islam dan umat Katolik,” kata Kardinal Tauran.
Dalam kunjungan sebelumnya ke katedral, kardinal mengatakan umat Islam menjadi contoh bagi orang Kristen. “Dalam masalah kerohaniaan, umat Islam sangat kuat. Lihat saja, mereka pagi-pagi sekali sudah bangun dan berdoa,” katanya. Ini pantas ditiru oleh para imam muda kita. Bangun pagi untuk berdoa sebagai awal dari aktivitas sehari-hari.”
Dia mengatakan sangat penting bagi umat Katolik untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan komunitas-komunitas lain.
“Kita umat Katolik harus menjadi saksi bagi komunitas-komunitas di sekitar. Ini salah satu makna dari dialog antar agama. Dan untuk menjadi saksi, kita perlu memiliki kehidupan rohani yang dalam,” katanya.
Nasaruddin Umar, direktur Jenderal Bimas Islam Departemen Agama RI, mengatakan kepada UCA News bahwa ia terkesan dengan kunjungan Kardinal Tauran ke Masjid tersebut. “Itu berarti orang Kristen bisa damai dengan Muslim,” katanya.
Masjid Istiqlal dirancang oleh seorang arsitek Protestan Frederich Silaban untuk perayaan kemerdekaan. Istiqlal dalam bahasa Arab berarti “merdeka”. Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan oleh Presiden Indonesia pertama Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961. Pembangunannya dilakukan selama 17 tahun dan diresmikan oleh presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.
Kardinal Tauran tiba di Indonesia pada 24 November dan akan kembali pada 2 Desember. Menurut panitia penyelenggara, kunjungan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama memahami lebih baik tentang situasi hidup beragama di negeri ini, serta membantu Gereja membangun hubungan baik dengan komunitas-komunitas agama lain di sini.
Pada 26 November, kardinal Tauran bertemu dengan para pemimpin dari Wahid Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid. Lembaga ini berkarya untuk menciptakan dunia yang adil dan penuh damai dengan mendukung pandangan yang moderat dan toleran tentang Islam.
Pada hari yang sama, dia juga bertemu dengan para pemimpin Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia juga diharapkan bertemu dengan para pemimpin Hindu di Bali dan para pemimpin Islam di Makassar dan Yogyakarta. ***