JAKARTA (UCAN) – Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama Kardinal Jean-Louis Tauran menegaskan pentingnya dialog dalam pertemuannya dengan para pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Jakarta.
Dia juga sempat berbicara dengan mantan presiden Abdurrahman Wahid, di Wahid Institute. Dalam setiap pertemuan tersebut kardinal menekankan posisi Paus Benediktus XVI.
”Dialogue bukan suatu pilihan, tapi kebutuhan,” jelas Kardinal Tauran kepada para pemimpin tersebut.
Dia mendesak sekolah-sekolah dan universitas-universitas untuk turut serta dalam mendukung dialog antar agama yang didasarkan pada semangat toleransi, saling menghargai dan kerja sama.
Dalam kunjungan ke kantor pusat Muhammadiyah di Jakarta Pusat, Kardinal Tauran bergabung dengan pemimpin Islam dalam sesi dialog ”Membangun Kepercayaan untuk Keadilan Sosial.’
Dia memulai pidatonya di hadapan 70 umat Katolik, Protestan, Muslim yang berkumpul di sana dengan mengucapkan selamat atas hari jadi organisasi tersebut yang ke-100, yang jatuh pada 25 November.
Kardinal Tauran juga mengucapkan “Selamat Hari Idul Adha” kepada segenap umat Islam yang merayakannya. Idul Adha diperingati sebagai hari kesediaan Abraham mengorbankan putranya, yang dirayakan tepat pada 27 November lalu.
Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin yang bertindak selaku moderator mengatakan kunjungan kardinal ini akan membantu melanjutkan dialog Kristen-Islam menuju langkah yang lebih konkret.
Kelanjutan pembahasan dialog ini sudah seringkali ditunda akibat pertikaian Muslim-Kristen di Ambon dan provinsi lainnya. Pertikaian yang sudah berlangsung selama tiga tahun itu telah menewaskan 6.000 orang dan menyebabkan ribuan orang lainnya mengungsi sebelum pakta perdamaian ditandatangani pada 2002 lalu.
“Dari evaluasi dan pandangan pribadi saya, hubungan Muslim-Katolik di Indonesia cukup bagus,” jelas Syamsuddin. “Tapi saya harus akui bahwa masih ada banyak kendala dalam hubungan antara Muslim dan Kristen, terutama pada masyarakat bawah.” Masalah-masalah ini bisa saja mengatasnamakan agama, tapi secara fundamental bukan masalah agama, jelas Syamsuddin.
Sebelumnya, tanggal 26 November, Kardinal Tauran mengunjungi kantor Pengurus Besar NU dan berbicara dengan ketuanya Hasyim Muzadi. Kedua pemimpin agama tersebut percaya bahwa ’persaudaraan sejati’ lebih berarti dari dialog.
Dalam kunjungannya Kardinal Tauran didampingi Nunsius Apostolik untuk Indonesia Uskup Agung Leopoldo Girelli, ketua KWI Mgr. Martinus Dogma Situmorang dari Keuskupan Padang, Kardinal Julius Darmaatmadja dan Uskup Koadjutor Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Jakarta, serta sekjen KWI Mgr. Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta dari Bandung, yang juga anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama.***