JAKARTA (UCAN) – Kardinal Jean-Louis Tauran kembali menegaskan pentingnya ekumene dan dialog dengan agama lain saat bertatap muka dengan pemimpin Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Jakarta.
Kardinal Tauran yang menjabat Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama mengatakan hal ini menjadi perhatian utama dalam memajukan toleransi. ”Kita harus menjadi satu keluarga,” katanya kepada lebih dari 10 pemimpin Protestan yang menghadiri pertemuan pada 27 November lalu.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari serangkaian kunjungan resmi selama delapan hari di Indonesia. Sebelumnya dia juga bertemu dengan pemuka agama Islam di Jakarta.
Kunjungan yang berlangsung dari 24 November hingga 1 Desember itu bertujuan memberikan kesempatan kepada dewan kepausan untuk lebih memahami situasi hidup beragama di Indonesia, juga untuk membantu gereja Indonesia membangun hubungan yang lebih baik dengan komunitas agama lain.
Dia menghimbau kepada pemimpin Protestan yang hadir agar umat Kristiani sebagai kelompok minoritas harus berinisiatif memulai dialog dengan umat Muslim sebagai mayoritas.
“Dialog dengan orang beda agama merupakan suatu pengalaman spiritual yang dalam, karena kita dituntut untuk menjadi saksi dan berbicara tentang iman kita,” katanya. Tujuan dari dialog itu sendiri, bukan ‘toleransi’ melainkan ‘cinta’ karena kita semua adalah saudara dan saudari dalam satu keluarga.
Dia mendesak pemimpin Protestan untuk menjadikan dialog sebagai sebuah kebutuhan hidup, sehingga bisa secara bersama mengatasi masalah sosial seperti yang terkait dengan lingkungan hidup, keadilan sosial dan kemiskinan.
Menanggapi permintaan Kardinal Tauran, ketua PGI, Pendeta Andreas A. Yewangoe mengatakan Gereja-gereja Protestan memiliki hubungan yang baik dengan Gereja Katolik, terutama dengan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). “Kami biasa menerbitkan pesan Natal bersama setiap tahun,” jelasnya.
Pesan Natal bersama KWI dan PGI tahun ini mengambil tema ”Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang.”
Pendeta Yewangoe menambahkan PGI dan KWI “selalu berjalan bersama’ dalam menanggapi masalah sosial seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan masalah HAM.
Berbicara kepada UCA News seusai pertemuan, Pdt. Yewangoe mengatakan ekumene dan dialog antaragama ‘bukan hal baru buat kami’ tapi kunjungan Kardinal Tauran ‘telah menyegarkan kami.’
Pada sore hari yang sama, Kardinal Tauran meminta kaum awam dan mahasiswa Katolik untuk lebih memahami iman mereka sebelum memulai dialog dengan para penganut agama lain.
“Jangan malu atau ragu untuk membagikan iman kita,” katanya kepada akademisi dan mahasiswa Katolik yang menghadiri kuliah umum yang dia berikan di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.
Dengan mengusung tema “Peran Universitas dalam Dialog Antaragama” dia menjelaskan bahwa keraguan adalah akibat dari pengetahuan yang tidak memadai tentang iman seseorang.
“Di sinilah letak peran penting yang harus dimainkan oleh intelektual Kristen. Mereka harus bisa menjelaskan iman mereka,” tegas Kardinal Tauran.
Masalah yang biasa muncul antara Kristen dan Muslim seringkali terjadi karena ketidaktahuan tentang agama orang lain. Dialog antaragama merupakan kesempatan untuk mengoreksi pandangan yang keliru tentang agama lain.
Dia menambahkan, dialog yang efektif akan mengantar kepada terciptanya kebebasan beragama, menyatukan pandangan melawan kesenjangan pendidikan dan kesehatan serta mempertebal tanggung jawab bersama dalam pembentukan moral bagi generasi mendatang. ***