SINGAPURA (UCAN) – Seorang pastor dari Ordo Dominikan atau dikenal juga dengan Ordo Pengkotbah, Pastor Timothy Radcliffe mengatakan orang muda bisa belajar tentang isu-isu yang berkaitan dengan iman Katolik di bar.
Pastor Radcliffe, 64, asal Inggris ini mengatakan Santo Dominikus membangun Ordo Dominikan di sebuah bar. Dan sebuah komunitas Dominikan di Louvain, Belgia mengelola sebuah bar yang dinamai The Blackfriars.
“Adakah tempat untuk nongkrong yang lebih menarik dari bar?” tanya Pastor Radcliffe sambil tertawa kepada sejumlah orang muda yang mengikuti sesi tanya-jawab di sebuah bar di negara kota tersebut.
Berbicara kepada UCA News setelah sesi tanya-jawab dengan 180 orang muda Katolik di “Love the World Soul Rock Bistro and Bar”- sebuah tempat nongkrong favorit orang muda Singapura, Pastor Radcliffe mengatakan orang muda bisa belajar tentang isu gereja di bar. Bistro ini terletak di Singapore Flyer.
Sebagai satu-satunya orang Inggris yang memimpin anggota Dominikan dari tahun 1992-2001, dan anggota biara Blackfriars di Oxford, Pastor Radcliffe menjelaskan berbagai isu yang berkaitan dengan kehidupan orang muda, seperti cinta, sex, pernikahan, homoseksual, dan hubungan dengan pasangan dari agama lain.
Menanggapi masalah hubungan antara orang muda Katolik dengan orang dari agama lain, dia mengatakan, ‘tidak usah takut untuk bersahabat dan membagi kasih’ dengan mereka.
Sementara terkait isu homoseksual, Pastor Radcliffe menjelaskan bahwa orang tidak boleh bersikap ‘menghakimi’ orang-orang homoseksual. Dunia pun sedang dalam proses memahami mereka, jelasnya.
Dia juga mengingatkan mereka bahwa semua orang, baik itu homoseksual maupun heteroseksual, menghadapi tantangan yang sama yakni perjuangan untuk hidup secara layak dan mengungkapkan cinta secara tepat.
Ordo Dominikan, tambahnya, mengharapkan agar orang melihat moralitas Kristen lebih dari sekedar apa yang diperbolehkan atau apa yang dilarang.
Moralitas harus dilihat sebagai bentuk persahabatan dengan Tuhan. Tuhan sudah memberikan Sepuluh Perintah Allah sebagai sarana untuk turut ambil bagian dalam persahabatan yang Ia tawarkan. Ajaran Kristus pun ditawarkan dalam konteks persahabatan.
Berkaitan dengan pertanyaan seputar Katolik dan Protestan, dia menjelaskan bahwa para teolog Protestan sudah memberikan sumbangsih besar dalam pemahaman iman Kristiani.
Salah satu peserta, Valerie Lee, 28, seorang guru TK, mengaku suasana di tempat itu membuat sesi tanya-jawab tersebut menjadi sangat rileks dan menyenangkan. Dia mengatakan tidak merasa ’dikotbahi’, berbeda dengan pengalaman biasa kalau dilakukan di gereja.
Miguel Sun, 30, mengungkapkan sesi informal seperti ini merupakan pengalaman yang menyegarkan dan menguatkan iman dan cintanya akan Tuhan. Dia menambahkan, sekarang dia bisa melihat perintah Allah dari perspektif baru.
Pastor Radcliffe menerima tawaran dari berbagai kelompok di Keuskupan Agung Singapura untuk memberikan ceramah kepada awam, biarawan-biarawati, dan pastor di sana.
Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Singapura yang menyelenggarakan acara tersebut menjelaskan bahwa ide untuk berdiskusi tentang iman di bar merupakan bagian dari upaya untuk menjangkau orang-orang muda yang sering mengunjungi tempat-tempat seperti itu setelah mereka bekerja.
Ide ini mirip dengan diskusi-diskusi ‘Theology on Tap” di Amerika Serikat. Istilah ini diberikan untuk ceramah yang disponsori oleh keuskupan setempat di AS, biasanya diberikan oleh pemimpin spiritual atau akademisi Katolik dengan mengangkat topik seputar agama dan teologi.
Topik pembahasan bervariasi, dan lokasi yang dipakai juga bervariasi, bahkan kontroversial seperti di bar atau restoran, berbeda dari tempat biasa yakni gedung paroki. Konsep seperti ini sudah biasa diterapkan oleh Gereja Episkopal, Gereja Luteran, Presbiterian dan Metodis. ***