BANGKOK (UCAN) — Gereja Katolik Thailand saat ini berusaha merasa prihatin dengan para pekerja imigran asal Myanmar di Thailand, terutama akibat kendala bahasa dan keterampilan bekerja.
“Kebanyakan dari mereka adalah buruh atau pembantu rumah tangga dan sangat kecil kemungkinan untuk mendapatkan pendidikan,” ujar Mgr. Joseph Phibul Visitnonthachai dari Nakhon Sawan, direktur eksekutif Komisi Pastoral Imigran
Sebagian besar dari mereka tidak bisa mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit atau untuk mengirim anak mereka ke sekolah karena mereka tidak menguasai bahasa Thai.
Berdasarkan data Program Bantuan Migran, sebuah organisasi non pemerintah (NGO) di Thailand, ada sekitar 1,5 hingga 2 juta imigran asal Myanmar di Thailand. Dan hanya berkisar satu juta saja dari mereka yang memiliki dokumen resmi.
Gereja setempat sudah memiliki delapan pusat pendidikan yang dipergunakan untuk membantu para pekerja Myanmar di Bangkok. Ada tujuh pusat pelatihan yang mengajar bahasa Thai dan Inggris setiap Hari Minggu, sedangkan yang satu lagi memberikan pelajaran memasak, kursus computer, menjahit dan membuat bunga buatan.
Pusat pelatihan pertama dibuka tahun 2007 di kuil Buddha, dan selanjutnya dibuka baik di sekolah Katolik maupun tempat-tempat agama Buddha.
Somsak Saeung, seorang koordinator Komisi Pastoral Imigran, mengatakan pusat-pusat pelatihan tersebut dipergunakan untuk menampung sekitar 250 pekerja asal Myanmar beserta anak-anak mereka.
“Mereka semua punya dokumen resmi dan datang ke Thailand karena krisis politik dan ekonomi [di negara mereka],” katanya.
Sukon Maneesuwan, seorang sukarelawan, yang mengajar dasar-dasar bahasa Thai di salah satu pusat tersebut, mengakui bahwa ketidakmampuan mereka berbicara bahasa Thai memperbesar kemungkinan mereka dieksploitasi oleh majikan mereka.
Mi Mi, 34, salah seorang imigran asal Myanmar, yang sudah bekerja di salah satu pabrik di Thailand selama lebih dari tiga tahun mengikuti kelas tentang bagaimana membuat bunga hiasan. Dia menjual hasil kerjanya tersebut dan mengirim uangnya ke rumah untuk membiayai ketiga anaknya.
Sementara Nge, 23, yang sudah berada di Thailand selama lebih dari 10 tahun, mengikuti kursus bahasa Thai dan Inggris tingkat lanjutan. Meskipun dia bisa berbicara dalam kedua bahasa tersebut, dia masih ingin mendapat pekerjaan yang lebih bagus.
Komisi Pastoral Imigran dibentuk tahun 1987 untuk memberikan pelayanan pastoral kepada pekerja imigran di Thailand. Bagian dari pelayanan itu antara lain menyediakan makanan dan tempat tinggal serta membantu mereka mendapatkan pekerjaan.
Komisi tersebut bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan di seluruh Thailand untuk membuat kontrak dengan para imigran serta membantu mengidentifikasi isu-isu penting yang berhubungan dengan hidup mereka. ***