TANGAIL, Bangladesh (UCAN) – Peningkatan jumlah masalah rumah tangga Katolik suku Garo akibat konsumsi alkohol berlebihan mengundang keprihatinan kelompok Legio Maria di keuskupan Mymensingh.
Mereka pun turun tangan membantu mengatasi masalah ini. Dua tahun lalu, Sovya Mrong meninggalkan suaminya yang kerap kali bertindak kasar terhadap dirinya akibat minum alkohol.

Grup Legio Maria di Paroki Jalchatra
“Suami saya setiap hari minum chu (minuman beralkohol khas suku Garo). Dia tidak peduli sama sekali dengan keluarga dan seringkali memperlakukan saya secara kasar setiap kali saya minta dia supaya tidak minum terlalu banyak,” ungkap Mrong kepada UCA News. Suaminya juga menolak mengikuti misa hari Minggu
Selam dua tahun, wanita berusia 39 tahun ini bekerja sebagai tukang masak untuk para pastor di unio keuskupan Mymensingh.
Awal tahun 2009 ini, dia bertemu dengan Suster Mrinalini Rema, CSC [Kongregasi Salib Suci] selaku ketua Legio Maria paroki Corpus Christi [Tubuh Kristus] di Jalchatra yang kemudian membantu dia mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi.
Sr.Rema dan anggota legio lainnya berdoa di rumah Mrong dan memberi bimbingan kepada suaminya supaya berhenti minum alkohol. “Puji Tuhan, mereka berhasil. Suami saya sudah berhenti minum alkohol dan sekarang rajin ke gereja pada hari Minggu,” kata Mrong dengan gembira.
“Kami sangat berterima kasih kepada Legio Maria. Sekarang kami bisa hidup sebagai keluarga yang bahagia lagi,” tambahnya.
Sebelum kelompok Legio Maria turun tangan, sedikitnya ada 20 keluarga di 14 desa di Jalchatra mengalami penderitaan yang sama. Hingga sekarang belum ada satu pun dari para suami yang sebelumnya kecanduan alkohol kembali kepada kebiasaan minum alkohol.
Legio Maria didirikan oleh seorang awam di Irlandia tahun 1921. Kebiasaan yang dilakukan anggotanya adalah mengunjungi keluarga dan orang sakit, dan bekerja sama dalam kegiatan kerasulan paroki. Mereka berdoa secara teratur setiap minggu, mengadakan rapat, membuat perencanaan, melakukan kegiatan pelayanan selama sekitar 2 jam semingu secara tim.
Legio Maria di keuskupan Mymensingh dibentuk tahun 1994 dan hingga saat ini sudah memiliki lebih dari 100 anggota.
Setiap hari Minggu seusai misa mereka berkumpul di aula paroki untuk berdoa dan mengumpulkan dana untuk orang miskin. Tapi sekarang mereka memutuskan untuk membantu keluarga yang berantakan akibat alkohol.
“Meskipun minum alkohol produksi sendiri selama upacara adat atau pesta merupakan tradisi orang Garo, masalah keluarga muncul ketika orang menjadikan alkohol sebagai minuman biasa,” tegas Sr.Rema, CSC.
“Kami berdoa kepada Tuhan melalui perantaraan Maria, membantu orang miskin dan sakit, serta memberi bimbingan dan nasihat kepada keluarga yang mengalami masalah akibat alcohol.”
Menurut Sr. Rema, bimbingan memakan waktu cukup lama, kira-kira 15-30 hari. Untuk itu para anggota Legio mengunjungi keluarga beberapa kali dan berbicara dengan para suami yang kecanduan alkohol. Jika ada tanggapan positif, mereka akan mengatur jadwal doa meminta berkat Tuhan bagi keluarga-keluarga tersebut.
Baru-baru ini Bobita Dofo juga mengalami situasi yang dialami Mrong. Kemudian anggota Legio mengatur jadwal doa di rumah Dofo dan memberi bimbingan kepada suaminya.
“Suami saya sudah berhenti minum. Dia juga sudah rajin pergi ke gereja dan mengikuti doa keluarga pada malam hari,” kata Dofo.