BALIGE, Indonesia (UCAN) – Kekayaan warisan budaya Batak telah banyak membentuk liturgi Gereja Katolik di Sumatera Utara, dan telah memberi warna penuh terhadap kehidupan rohani umat di sana, kata Uskup Agung Anicetus Bognsu Antonius Sinaga dari Keuskupan Agung Medan.
“Sejak awal, Gereja sudah menekankan inkulturasi di sini. Itulah yang akan kita lanjutkan,” kata Uskup Agung Sinaga pada misa perayaan 75 tahun hadirnya Gereja Katolik di tanah Batak.
“Kami merayakan liturgi dalam tradisi unik orang Batak dan bahkan tempat-tempat ibadah pun dirancang sesuai dengan arsitektur Batak,” katanya kepada UCA News.
Dia berkisah, Pastor Sybrandus van Rossum, misionari Belanda pertama yang tiba di tanah Batak tahun 1934, minum tuak dengan para nelayan setempat. Dan karena dia seringkali melakukan hal itu, mereka menganggap dia sebagai bagian dari komunitas mereka, bukan lagi sebagai orang Belanda.
Kemudian setelah Konsili Vatican II (1962-1965), warisan adat orang Batak seperti musik gondang dan tarian tortor dimasukkan dalam Misa.
Orang Batak percaya gondang adalah pemberian dari Tuhan, dan sebelum dimainkan, pemimpin harus terlebih dahulu meminta ijin kepada Tuhan. Tarian tortor dipentaskan hanya kalau gondang dimainkan, menandakan “menyembah dan memohon rahmat dari Allah,” jelas Uskup Agung Sinaga.
Uskup yang kini berusia 68 tahun ini juga sudah menulis disertasi dokroral The High God of the Toba Batak: Transcendent and Imminent. Dari segi bahasa dan budaya, Batak Toba merupakan kelompok terbesar dari suku Batak di Indonesia.
Keuskupan Agung medan juga mendukung perayaan mangalahat horbo, sebuah upacara adat penting orang Batak, di mana peserta menyembelih kerbau jantan sebagai bentuk ucapan syukur.
Menurut Uskup Agung Sinaga, proses inkulturasi harus dilanjutkan untuk menciptakan komunitas “yang 100 persen Katolik, 100 persen orang Indonesia.”
Dia menambahkan, meskipun inkulturasi sudah berjalan sukses, masih ada hambatan bagi Gereja Katolik untuk berkembang di tanah Batak.
Kecendrungan politis yang menghambat perkembangan Katolik merupakan salah satu hambatan, ditambah lagi dengan Batak yang mayoritas memeluk Protestan. Katolik ‘tidak diinginkan’ di sini, lanjut Uskup Agung Singaga.
Sebagai contoh, pada waktu pemerintah provinsi mengeluarkan dana tahun 2007 lalu untuk keperluan keagamaan, tidak ada anggaran untuk Katolik, sementara Islam mendapat Rp60 miliar dan Protestan mendapat Rp40 miliar.
Hal ini menurut dia, semestinya memacu orang Katolik Batak untuk lebih giat lagi bekerja agar Katolik diakui, dengan merangkul tradisi ke dalam perayaan gereja dan meningkatkan sumbangsih yang lebih nyata bagi bangsa dan Negara.
Misa perayaan 75 tahun dipimpin Uskup Agung Leopoldo Girelli, dubes Vatikan untuk Indonesia. Dalam kotbahnya dia menegaskan ’untuk terus menyalakan semangat misionaris’ dalam diri setiap orang Katolik di tanah Batak
Sekitar 7.000 umat Katolik dan imam dari 12 paroki turut berpartisipasi dalam misa yang diselenggarakan tanggal 13 Desember di Balige, sebelah selatan Medan. Misa diwarnai iringan musik Batak dan tarian tortor.
Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin memuji keterlibatan Gereja Katolik dalam upaya memajukan pendidikan, turisme berbasis budaya, ekonomi local melalui keuangan mikro. Dia meminta umat Katolik untuk terus membangun hubungan yang harmonis dan damai di tanah Batak.