UCAN Philippines Catholic Church News
Sacred Space

TIMOR LESTE – Uang Saja Tidak Bisa Menyelesaikan Masalah Timor Leste

28/12/2009

UCAN Commentary

DILI (UCAN – 28/12/2009) – James Whitehead, direktur program internasional Progressio, sebuah  lembaga bantuan berbasis Katolik, melihat bantuan dari berbagai lembaga bantuan internasional di Timor Leste yang sedang membangun kemandiriannya

Sepuluh tahun sejak melepaskan diri dari Indnesia, Timor Leste masih menjadi negara termiskin di Asia Tenggara.

Tingkat harapan hidup (life expectancy) di sana rendah – hanya 67 tahun – dan setidaknya setengah dari jumlah warganya – yang 98 persen Katolik – tidak mendapat pekerjaan. Agak mengherankan, 40 persen terpaksa hidup kurang dari satu dolar sehari.

Coba lihat statistik berikut ini:
• Pengangguran usia muda: 80 persen
• Bantuan internasional untuk Timor Leste sejak tahun 1999: US$10 miliar.

• Jumlah pengungsi dan orang terlantar: 100,000
• Kematian bayi: 42 dalam setiap 1.000 kelahiran

Jadi tampaknya masuk akal bahwa bantuan internasional menjadi bisnis besar di Timor Leste dan cukup menjelaskan keberadaan asing di sana.

Pemerintah berulangkali menyampaikan terima kasih kepada komunitas internasional dalam upacara resmi, dan hal seperti itu disiarkan kepada publik melalui televisi.

Akan tetapi, tidakkah kehadiran asing di sana tampak sebagai sebuah pekerjaan? Dan mengapa bantuan PBB dan lainnya menjadi “tangan keras paternalisme?” Dan kapankah tujuan baik ‘untuk membantu’ berhenti mengganggap remeh keinginan warga setempat untuk mengontrol atau menguasai?

Ketika saya memikirkan soal ini, ada beberapa hal yang membuat saya tersentak. Saya jadi cemas karena begitu sedikit duit yang mencapai daerah pedesaan. Saya heran sekali ada begitu banyak proyek yang menciptakan kembali ketergantungan (yang ingin dihindari orang lokal), dengan melihat kenyataan bahwa banyak orang-orang cerdas ’dicaplok’ oleh organisasi-organisasi internasional  yang membayar mereka dengan gaji tinggi, sehingga pemerintah, LSM dan organisasi lokal lainnya hanya mendapat yang sisa-sisanya saja.

Namun, tentu saja seseorang tidak bisa mengatakan bahwa uang dari donor –terutama dalam jumlah besar- tidak membuat perubahan sama sekali. Bulan Juli tahun lalu, Mario Carrascalao, Wakil PM Timor Leste menegaskan bahwa kemajuan sedang dalam proses, dan bahwa komunitas internasional telah membantu menciptakan perdamaian.

Saya melihat ada beberapa kemajuan. Di salah satu desa yang saya kunjungi, warganya sudah bisa menikmati air dari pompa dekat rumah, ketimbang sebelumnya harus mengambil air di sungai yang jauh dan kotor pula.

Tapi apakah itu cukup?

Dalam keadaan tidak jelas seperti ini, banyak dari kami yang bekerja dalam organisasi pembangunan internasional menghibur diri dengan mengatakan bahwa toh kami bekerja sama dengan organisasi lokal, dan berharap ini memberi kami rasa legitimasi, dan membantu meredakan bahwa kami bertindak dengan “paternalisme sepihak”.

Tapi saya bertanya, apakah partner lokal ini benar-benar independen? Apakah mereka yang mengembangkan agenda pembangunan Timor Leste dan menyediakan pelayanan yang mereka anggap penting bagi orang yang bekerja sama dengan mereka? Atau apakah mereka hanya seperti wayang golek yang dimainkan sesuai “irama internasional”?

Jawabannya adalah mereka seringkali masuk dalam kategori yang terakhir. Menyedihkan. Jika sebuah LSM internasional memiliki uang dan ‘ide besar’ biasanya mereka akan menemukan organisasi lokal yang akan bergabung menjadi sub-kontraktor.

Ada banyak aspek bagi efektifitas sebuah bantuan, dan ada banyak sekali alasan mengapa beberapa bantuan berhasil dan beberapa tidak berhasil. Tidak diragukan lagi bahwa Timor Leste sangat khusus, dengan berbagai isu yang perlu ditangani jika negera ini mau maju.

Keinginan banyak warga Timor Leste untuk mendapatkan keadilan atas ribuan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang tewas selama berpuluh-puluh tahun kekuasaan di sana, merupakan langkah penting dalam membantu negara ini menuju perbaikan.

Kita tidak punya jawaban atas semuanya  juga kita tidak bisa berharap banyak untuk memecahkan isu-isu seperti itu di tengah-tengah masih besar kekurangan infrastruktur dan pekerjaan. Ini merupakan tantangan yang membutuhkan investasi jangka panjang.

Tapi “kepemilikan lokal” atas pembangunan adalah konsep yang harus diperhatikan secara serius. Bagaimana lagi orang bisa mendapatkan kekuatan untuk bisa memecahkan masalah mereka sendiri?

Melalui pendekatan ‘berbagi ketrampilan’ – dan melalui konsultasi dengan orang setempat – saya berharap kita bisa memainkan peran kecil, meskipun hanya belakang layar, dalam pembangunan jangka panjang dari negara yang baru mulai membangun ini.

Artikel ini diadaptasi dari majalah “Justice” sebuah publikasi Katolik yang menyajikan isu-isu seputar lingkungan hidup, migran, ekonomi, kemiskinan dan konflik. ***

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Penutupan 17 gereja di Aceh dilaporkan ke Komnas HAM
  2. 1,6 juta anak Indonesia kekurangan gizi
  3. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  4. Ketegangan menyusul kekerasan
  5. Ziarah Santa Maria Fatima
  6. Peziarah Lourdes asal Indonesia alami kecelakaan, seorang meninggal
  7. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  8. Bangun masjid sebagai solusi terbaik kasus GKI Yasmin
  9. Dokumen tunjukkan bukti Yesus pernah ke Jepang
  10. Doa akbar sedunia digelar di Jakarta
  1. Jemaat HKBP Filadelfia dilempari air got dan urine
  2. Ketegangan menyusul kekerasan
  3. Ribuan umat Kristiani berdoa bagi perdamaian
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  6. Korban Sukhoi didoakan umat Katolik pada Hari Kenaikan
  7. Istri Bill Gates, seorang Katolik, dukung pengendalian kelahiran
  8. Ketua MPR bertemu pimpinan KWI dan PGI
  9. Ziarah Santa Maria Fatima
  10. Pemrotes anti-nuklir akhiri mogok makan
  1. Mungkin gedung sebaiknya dijual untuk klinik, apotik dll.   lalu cari tempat lai...
    Said Jenny Marisa on 2012-05-18 22:54:00
  2. Semoga Tuhan mengampuni mereka yang melakukan kekerasan.  ...
    Said Andreas Darmadi on 2012-05-18 15:00:00
  3. Dasar islam:( ga mampu bangun mesjid. Akhirnya merampok dgn terang2an, dgn memin...
    Said rampok atas nama agama (islam) on 2012-05-18 09:25:00
  4. Kementrian Agama takut di demo. titik...
    Said Yantosaputrayo on 2012-05-18 05:40:00
  5. Beribadah merupakan hak paling asasi karena itulah cara manusia berkomunikasi da...
    Said Johnynatu on 2012-05-18 05:33:00
  6. Ah, Percuma itu komnas HAM. Hanya macan ompong....
    Said Omar Sarif on 2012-05-17 21:28:00
  7. medan aceh deket bungg.... hati2 ...
    Said Gos_ban on 2012-05-17 19:36:00
  8. Biarkanlah semua yang dilakukan oleh manusia, Tuhan Yesus yang mempunyai kuasa a...
    Said Agus Howay on 2012-05-17 18:20:00
  9. Konflik Maluku tahun 2002-2004 dibuat oleh alat keamanan. Orang Maluku yang ahli...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:27:00
  10. Sulit berkomentar jika ada kelompok2 yang mau benarnya sendiri, mau menangnya se...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:21:00