JAKARTA (UCAN) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya pada upacara Natal nasional baru-baru ini mengutuk keras setiap bentuk kekerasan sektarian di Indonesia.
“Mari kita hindari sikap-sikap yang bertentangan dengan ajaran agama universal,” kata presiden Yudhoyono, karena ajaran-ajaran tersebut menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan tanggung jawab.
Hal ini disampaikan presiden Yudhoyono mengingat seminggu sebelumnya terjadi serangan terhadap Gereja St. Albertus di Bekasi oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Kerugian pada serangan itu ditafsir mencapai 60 juta rupiah.
Dalam pidato yang disampaikan tanggal 27 Desember itu presiden Yudhoyono mengatakan serangan tersebut sudah keterlaluan, dan melanggar ajaran moral dari agama manapun.
Mengacu kepada tema perayaan Natal kali ini “Tuhan itu Baik Bagi Semua Orang” yang diangkat dari Maz. 145:9a, Presiden Yudhoyono mengatakan kepada sekitar 6.000 umat Kristiani yang hadir bahwa natal memberi inspirasi bagi kita semua untuk selalu memperat semangat kebersamaan, solidaritas dan persaudaraan.
“Mari kita menghormati UUD 1945 dan Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas presiden.
Perayaan natal nasional diselenggarakan setiap tahun dan diorganisir oleh tim dari Katolik dan Protestan, sedangkan Menteri Agama dan pejabat negara lainnya bertindak selaku penasihat.
Turut hadir pada perayaan akbar itu antara lain ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap dari Keuskupan Padang, Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ, dan Sekretaris eksekutif PGI Pdt.Gomar Gultom.
Beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan duta besar negara sahabat juga turut hadir pada perayaan Natal Nasional yang diselenggarakan di Jakarta International Convention Centre.