JAKARTA (UCAN) – Gereja Katolik memberikan apresiasi kepada mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid, yang meninggal pada usia 69 tahun pada 30 Desember.
“Kita kehilangan seorang guru bangsa dan tokoh pularisme. Demi pluralisme itulah, hidupnya dipertaruhkan,” kata Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia, kepada UCA News.
Ia mengatakan Gus Dur telah membuat umat Katolik dan Protestan “merasa aman” di negara yang mayoritas Muslim, dan berharap bahwa lebih banyak pemimpin mengikuti langkahnya untuk “menghargai dan melindungi semua orang di tanah air ini.”
Wahid, yang popular dikenal sebagai Gus Dur, meninggal di Jakarta akibat komplikasi penyakit diabetes, jantung dan stroke.
Pastor Susetyo mengungkapkan ia akan hadir dalam pemakaman kenegaraan di tempat kelahiran Gus Dur di Jombang, Jawa Timur, pada 31 Desember.
Imam itu juga meminta semua paroki di seluruh tanah air untuk mempersembahkan doa intensi khusus bagi peristirahatan kekal Gus Dur.
Pastor Franz Magnis-Suseno SJ, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta mengatakan kepada UCA News, “Kita kehilangan seorang tokoh besar dan salah satu warga bangsa yang bisa mempersatukan seluruh komponen bangsa.”
Gus Dur mendirikan the Wahid Institute untuk mempromosikan perdamaian dan penghargaan akan perbedaan dalam masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman agama dan budaya.
Menurut Pastor Magnis-Suseno, mantan presiden itu telah mendorong orang muda Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di tanah air dengan sekitar 60 juta anggota, “menjadi Islam yang memiliki pandangan inklusif, nationalis dan pluralis.”
Gus Dur memimpin NU selama tiga periode, dari 1984 hingga 1999.
Theophilus Bela, sekretaris jenderal Indonesian Committee on Religions for Peace (IComRP), mengenang kunjungan Gus Dur dalam mendukung Sekolah Katolik Sang Timur, barat Jakarta, setelah sekolah itu diserang oleh segerombolan massa pada Oktober 2004.
Pada waktu itu, sekitar 200 orang yang menamakan diri Front Pemuda Islam membangun sebuah dinding tembok di pintu gerbang sekolah itu sebagai protes atas penggunaan gedung itu untuk Misa hari Minggu oleh Paroki St. Bernadette.
Sekolah itu ditutup selama seminggu menyusul kejadian itu.
Bela, seorang awam Katolik, juga mengenang bahwa ketika Gus Dur menjadi presiden, ia mengizinkan masyarakat “masuk ke istana presiden, yang para pendahulunya tidak pernah mengizinkan.”
Gus Dur lahir pada 4 Agustus 1940, dan dipilih menjadi presiden keempat Indonesia pada 20 Oktober 1999, sebuah jabatan yang ia emban hingga 23 Juli 2001.
IJ08470.675b