KOTA VATIKAN (UCAN) – Paus Benediktus XVI mengatakan sangat sedih atas wafatnya Peter Kardinal Seiichi Shirayanagi pada 30 Desember lalu pada usia 81 tahun.
Kardinal asal Jepang itu tutup usia di Wisma Loyola, sebuah rumah yang diperuntukkan bagi para imam jompo di Tokyo. setelah kesehatannya terus menurun akibat terkena serangan jantung pada bulan Agustus.
Dia adalah satu dari dua kardinal asal Jepang yang ikut dalam konklav pada April 2005. Dalam konklav itu terpilihlah Paus Benediktus XVI.
Dalam sebuah telegram belasungkawa kepada Uskup Agung Peter Takeo Okada, pengganti Kardinal Shirayanagi sebagai uskup agung Tokyo, Paus Benediktus memuji komitmen kardinal ini untuk mewartakan Injil di Jepang, meningkatkan keadilan dan perdamaian, serta upayanya yang tak kenal lelah bagi para pengungsi selama pelayanannya yang panjang sebagai imam dan uskup.
Paus mengucapkan “rasa turut berdukacita yang mendalam” bersama para klerus, religius, dan kaum awam dari keuskupan agung itu dan berdoa semoga Allah menganugerahkan “pahala bagi segala karyanya, dan menerima arwahnya ke dalam terang dan kedamaian di surga.”
Sebuah obituari dalam harian Vatikan L’Osservatore Romano memberi penghormatan kepada kardinal itu karena “secara khusus terbuka” bagi dialog dengan agama-agama lain.
Dia juga terkenal karena sikapnya “yang gigih dan penuh penghormatan terhadap kebebasan beragama,” tulis harian itu.
Kardinal Shirayanagi juga disegani karena berbagai prakarsa penting bagi perdamaian dan pelucutan senjata, terutama dalam mengenang peristiwa Hiroshima dan Nagasaki.
Secara lantang, dia menyuarakan penghapusan utang negara-negara miskin dan pembentukan Komisi Keadilan dan Perdamaian yang pertama dalam konferensi waligereja Jepang. Dia juga pernah menjadi ketua Komisi Kegiatan Sosial konferensi itu. Pada saat itu, dia memperjuangkan hak para pengungsi.
Harian Vatikan itu juga memuji cara dia mengembangkan ‘hubungan yang hangat” dengan umat Katolik Cina dan pertemuannya dengan sekelompok awam, religius, dan imam Cina tahun 1989.
Dua peran yang menjadi sorotan adalah penyambutan Paus Yohanes Paulus II ke Jepang tahun 1981, dan memimpin upacara beatifikasi 188 martir Jepang di stadiun Nagasaki pada 24 November 2008.
Misa arwah bagi kardinal itu diselenggarakan di Katedral Santa Maria di Tokyo pada 5 Januari, dan kemudian dilanjutkan dengan kremasi sesuai adat istiadat Jepang.
Kardinal Shirayanagi dilahirkan di Hachioji di Keuskupan Agung Tokyo pada 17 Juni 1928. Dia menyelesaikan filsafat dan teologi di Universitas Sophia sebelum ditahbiskan menjadi imam pada 21 Desember 1954.
Setelah ditahbiskan, dia pergi ke Roma untuk belajar hukum kanonik dan pada bulan Mei 1966 diangkat menjadi uskup auksilier Tokyo. Tiga tahun kemudian, dia menjadi uskup koajutor bagi Peter Kardinal Tatsuo Doi. Dia menggantikan kardinal itu sebagai uskup agung Tokyo pada 21 Februari 1970.
Paus Yohanes Paulus II menjadikannya seorang kardinal pada 26 November 1994. Dia memimpin Keuskupan Agung Tokyo hingga Februari 2000.
Setelah dia meninggal, tidak ada lagi kardinal asal Jepang dalam Kolegium Para Kardinal, namun situasi bisa berubah pada saat Paus Benediktus mengadakan konsistori mendatang, mungkin pada tahun 2010.
Oleh Gerard O’Connell, Koresponden Khusus di Roma