SEOUL (UCAN) — Aksi militer tidak bisa dijadikan solusi atas persoalan-persoalan Korea Utara dan Korea Selatan, kata seorang imam di wilayah perbatasan hari ini. Dia berada di zona baku tembak di perairan bebas yang menjadi perbatasan laut di bagian barat yang dipersengketakan.
Imam Keuskupan Incheon di Paroki Baengnyeong, yang terletak di Pulau Baengnyeong-do dekat lokasi baku tembak itu mengatakan bahwa dia mendengar bunyi tembakan pagi ini (27 Januari), tetapi mengira itu hanya latihan militer.
“Kemudian saya sadar bahwa itu merupakan baku tembak dengan menggunakan senjata berat antara tentara Korea Utara dengan Korea selatan,” kata Pastor Joseph Kim Joon-tae kepada UCA News.
“Korea Utara dan Korea Selatan melanggar perbatasan dengan saling mengancam,” katanya. “Tapi pencarian solusi dengan cara militer sama sekali tidak diinginkan dan hanya membuat situasi semakin tegang.”
Korea Utara melepaskan beberapa tembakan meriam ke Laut Kuning dekat Pulau Baekryeong yang hanya berjarak 13 kilometer dari wilayah Korea Utara.
Pyongyang mengatakan tembakan meriam merupakan bagian dari latihan tahunan militer. Korea Selatan segera merespon dengan melepaskan tembakan meriam jarak pendek ke udara.
Tidak ada korban, kata sumber-sumber militer.
Sementara hampir semua pengamat menolak tindakan itu sebagai sekedar uji-coba senjata berat, Pastor Kim mengatakan tindakan itu masih membuat masyakat di pulau itu khawatir.
“Kebanyakan penduduk pulau itu adalah nelayan. Kejadian itu membuat mereka enggan melaut. Kedua Korea hendaknya mencari solusi damai, bukan meningkatkan ketegangan,” katanya.
Pastor Hugo Park Jung-woo, sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian dari Konferensi Waligereja Korea, menolak kejadian itu sebagai taktik unjuk kekuatan Korea Utara sebelum pembicaraan damai.
Tapi ia menyerukan hidup berdampingan secara damai.
“Korea Utara hendaknya jangan meningkatkan ketegangan militer,” katanya.
Di Pulau Baekryeong hanya ada satu paroki Katolik dengan 1.053 umat Katolik di antara sekitar 5.000 penduduk.
KO08640.679b