BANGKOK (UCAN) — Uskup George Yod Phimphisan CSsR, 77, akan pensiun pada 6 Februari setelah memimpin Keuskupan Udon Thani selama hampir 35 tahun.
Paus Benediktus XVI telah menerima permohonan pensiunnya 14 November dan telah mengangkat Uskup Joseph Luechai Thatwisai, 47, sebagai penggantinya.
Uskup Yod berperan dalam mengembangkan komunikasi sosial dari Gereja di Thailand dan berperan penting dalam pengembangan kerasulan kesehatan dan karya Gereja di kalangan masyarakat pinggiran di keuskupannya.
Uskup Yod lahir di Bangkok tahun 1933 dan ditahbiskan menjadi imam Redemptoris tahun 1958. Ia diangkat dan ditempatkan sebagai Uskup Udon Thani tahun 1975. Dia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial di Vatikan.
Dalam Gereja Thailand, ia pernah menjadi wakil ketua Konferensi Waligereja Thailand dan ketua berbagai komisi konferensi itu, antara lain Komisi Pastoral Orang Sakit, Komisi Kitab Suci, dan Komunikasi Sosial.
Dia berbicara dengan UCA News baru-baru ini.
UCA News: Keuskupan Anda dimulai oleh Redemptorist tapi sekarang ada banyak imam diosesan. Seberapa jauh ini berdampak pada kehidupan Gereja di sini?
USKUP GEORGE YOD PHIMPHISAN: Fakta bahwa kita akhirnya memiliki klerus diosesan merupakan prestasi terbesar …. Sekarang kita miliki hampir 20 orang. Kini keuskupan memiliki imam diosesan dan imam religius, serta sejumlah tarekat misioner asing.
Saya yakin, peningkatan bertahap jumlah imam diosesan akan berdampak bagus pada kerasulan keuskupan dan berbagai karya lain. Para imam diosesan adalah warga lokal yang tahu tentang masyarakat, sedangkan para religius berasal dari berbagai bagian lain negeri ini.
Pada tahun 2009, kami mentahbiskan dua imam diosesan. Tahun ini, kami memiliki empat diakon yang mudah-mudahan akan segera ditahbiskan menjadi imam. Uskup baru sendiri adalah warga lokal. Tapi keuskupan masih menyambut baik dan akan terus menerima bantuan dari imam religius dan misionaris.
Jumlah umat Katolik di Keuskupan Anda bertahan pada 0,3 persen selama bertahun-tahun. Evangelisasi apa yang telah dilakukan Gereja di sini?
Alasan jumlah umat Katolik di sini tetap bertahan pada 0,3 persen itu bisa terjadi karena banyak umat Katolik setempat telah berpindah ke tempat lain, terutama ke Bangkok, bersama keluarga mereka.
Kita tidak bisa bersaing dalam statistik dengan keuskupan-keuskupan lain seperti Chiang Mai atau Nakhon Sawan, karena memang banyak warga suku daerah pegunungan di sana menjadi Katolik.
Gereja di Udon Thani telah melakukan evangelisasi di sebagian besar masyarakat pinggiran. Ketika saya mulai sebagai uskup, hanya ada satu pusat untuk untuk penderita kusta di Khon Kaen.
Sekarang ada 30-40 pusat untuk berbagai kategori seperti lepra dan AIDS, yang sebagian besar dikelola oleh para suster. Masyarakat pinggiran tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang akan mempedulikan mereka dan memperlakukan mereka sebagai manusia. Jadi beberapa dari mereka akhirnya bertobat menjadi Katolik.
Bagaimana komunikasi sosial berkembang di Gereja Thailand?
Pada awalnya memang lamban tetapi terus meningkat secara signifikan karena banyaknya umat awam mampu dan profesional.
Tidak mengejutkan, beberapa anggota [badan komunikasi sosial dari kantor Katolik Komunikasi Sosial], terlibat dalam karya komunikasi sosial Katolik di tingkat Asia dan dunia.
Pada saat-saat awal, kita hanya mengajarkan katekismus di gereja-gereja. Sekarang kita memiliki program-program radio dan televisi [dan] sebuah surat kabar mingguan nasional. Keuskupan Agung Bangkok, misalnya, memiliki sebuah acara mingguan televisi selama satu jam. Kini banyak keuskupan memiliki website.
Tapi masa depan media cetak masih ada karena lebih mudah diakses oleh massa.
Kami juga melihat cara-cara baru untuk mengkomunikasikan pesan Gereja. Dalam keuskupan saya, misalnya, kita sudah mulai melakukan mor lam [gaya tari dan lagu populer di Thailand bagian timur laut dan di Laos] di gereja-gereja yang menggambarkan kisah-kisah Alkitab.
Kekurangan dana, memang selalu terjadi. Sumber daya tidak cukup untuk mengembangkan dan mempertahankan pengembangan lebih lanjut.
Kita juga memerlukan lebih orang yang terlatih.
Anda pernah mengusulkan agar Agama membuat komitmen sementara sesuai model yang dilakukan para rahib Buddhis. Apakah Anda masih berpegang pada gagasan ini?
Masih. Beberapa kongregasi religius wanita sudah melakukan hal ini. Salah satu alasan di balik usul saya itu adalah agar suatu tarekat religius dapat berbagi kharismanya dengan orang muda dan pada saat yang sama orang muda tidak perlu berkewajiban untuk masuk biara. [Beberapa] mungkin akhirnya memutuskan untuk masuk biara.
Tahun lalu, Gereja Thailand menyaksikan pentahbisan lima uskup. Bagaimana generasi baru para uskup ini mempengaruhi karakter Gereja Thailand?
Saya terkesan dengan semangat dan pandangan mereka. Mereka akan menjadi alat dalam melihat perkembangan lebih lanjut dari Gereja Thailand di semua aspek. Saya yakin, Gereja akan mendapatkan manfaat luar biasa dari kontribusi mereka.
TH08665.679