
MANILA (CNI) – Umat awam bingung dan bisa menimbulkan perpecahan dalam Gereja, demikian peringatan sejumlah uskup senior, melihat dukungan publik yang diberikan oleh klerus terhadap kandidat tertentu.
Uskup emeritus Mgr Frasisco Claver mengatakan kepada UCA News hari ini [26 Februari], mendukung seorang kandidat berarti mengompromikan penilaian seorang uskup dan perannya sebagai “katalisator kritis” dengan pemerintah.
Kemarin, Uskup Agung Lipa Mgr Ramon Arguelles dan Uskup Bacolod Mgr Vicente Navarra mengumumkan bahwa mereka mendukung John Carlos de los Reyes untuk presiden dalam pemilihan umum 10 Mei.
Pastor dan suster lain juga ikut konser pada hari yang sama untuk menggalang suara bagi kandidat-kandidat dalam pemilihan mendatang.
Pakar hukum kanonik, Uskup Tagbilaran Mgr Leonardo Medroso mengatakan Konferensi Waligereja Filipina (CBCP, Catholic Bishops’ Conference of the Philippines) akan tetap pada pendiriannya untuk tidak mendukun kandidat tertentu.
“Pernyataan dari satu atau dua atau bahkan tiga uskup, tidak mengubah sikap seluruh konferensi,” kata anggota Komite Tetap CBCP itu. “Gereja seharusnya menjadi simbol persatuan,” katanya.
“Sebagai sebuah konferensi, kami tidak ingin menjadi partisan, sekalipun ada sejumlah anggota yang berpendapat bahwa sikap seperti itu tidak realistik.”
Uskup Claver mengatakan sikap resmi CBCP terhadap pejabat pemerintah adalah “mendukung apa yang baik, sementara yang salah dan tak bermoral dikritik.” Para uskup dan imam harus bisa melakukan hal ini, katanya.
Namun, antropolog Yesuit itu mengakui, agaknya sulit bagi klerus dan kaum religius Filipina karena loyalitas kepada keluarga merupakan nilai-nilai kebudayaan mereka.
Konfrater Uskup Claver, Pastor Manuel Francisco, menyemangati kampanye keluarganya, Benigno “Noynoy” Aquino III, dalam sebuah reli. Sementara saudara uskup itu sendiri, Louis Claver, Jr menjadi kandidat gubernur untuk Propinsi Pegunungan.
“Saya hanya bisa mengatakan kepadanya, maju dan bersaing. Saya tidak ikut dalam kampanye, tetapi bagi banyak pastor dan suster … sulit untuk tidak ikut kampanye bagi keluarga mereka, kata Uskup Claver.
Namun dalam pemilihan presiden, mamang bisa membingungkan kaum awam jika para pejabat Gereja kampanye untuk kandidat tertentu.
“Jika hanya satu atau dua calon presiden, itu tidak akan terlalu buruk, tetapi ada begitu banyak,” kata Uskup Claver.
“Jika kita mempengaruhi orang untuk memilih orang tertentu, agaknya kita mundur jauh ke masa lalu dengan menggunakan kekuasaan kita sebagai uskup.”
Dia yakin, para uskup telah melakukan “kesalahan” setelah revolusi rakyat yang menumbangkan Ferdinand Marcos tahun 1986.
“Kita mulai menikmati kuasa yang kita miliki, yang sebelumnya ketika keadaan darurat diberlakukan, kita menggunakan kuasa kita untuk melawan apa yang buruk dengan tetap mempertahankan persatuan kita.
“Sekarang, kita memilih siapa yang ingin kita dukung, isu apa yang perlu kita dukung dengan menggunakan kuasa kita, dan sekaligus menggunakan kuasa kita untuk mengancam dan menghukum,” kata Uskup Claver.
Uskup Medroso mengatakan CBCP tidak mampu “mendisiplinkan” klerus yang ikut kampanye. CBCP hanyalah sebuah forum para uskup. Kuasa yudisial dan eksekutif ada pada keuskupan masing-masing, kata Uskup Medroso.