
TOKYO (CNI) – Para uskup Jepang memutuskan untuk kembali memulai proses beatifikasi sebagai martir dari Kirishitan Daimyo (seorang tuan tanah feodal Kristen) yang diasingkan ke Filipina oleh seorang Shogun di abad ke-17, demikian UCA News.
Konferensi Waligereja Jepang mengadakan sidang pleno di Tokyo 15-19 Februari. Enam belas uskup, seorang administrator keuskupan, dan empat wakil dari kongregasi religius pria dan perempuan menghadiri sidang itu.
Para uskup memutuskan untuk memulai proses beatifikasi Takayama Ukon, bangsawan Katolik yang lahir 1552. Nama Kristennya Justo tapi ia juga dikenal sebagai “Dom Justo.” Meskipun ada penganiayaan, Takayama berani melibatkan diri dalam Gereja dan kegiatan-kegiatan misioner.
Tahun 1614, ia dibuang dari Jepang ke Manila oleh Tokugawa Ieyasu, sedorang Shodun. Pada Desember, dia tiba di Manila, dan pada Februari tahun berikutnya dia meninggal dunia karena sakit.
Setelah Perang Dunia II, umat Katolik di Jepang mulai sebuah gerakan untuk beatifikasi Takayama sebagai seorang pengaku iman. Namun, hal itu tidak dilanjutkan karena berbagai alasan. Kini, dengan alasan kemartirannya, para konferensi waligereja memprakarsai kembali proses beatifikasinya.
Uskup Takamatsu Mgr Osamu Mizobe, ketua Komisi Khusus Kanonisasi dan Beatifikasi dari konferensi waligereja, mengatakan, segera setelah kematian Takayama, uskup agung Manila waktu itu berencana melanjutkan proses beatifikasinya untuk dijadikan martir. Buku-buku sejarah juga menganggap Takayama sebagai seorang martir.
Uskup Salesian itu mengatakan, “Ini sebenarnya bukan suatu kasus baru. Namun, kelompok-kelompok yang memperingati Takayama berangsur-angsur menurun, sehingga sangat penting untuk memikirkan cara-cara menghidupkan kembali gerakan beatifikasi itu.”
Pada November 2008, sebuah upacara beatifikasi 188 martir Jepang diadakan di Nagasaki. Pada awalnya, konferensi waligereja berencana memasukkan Takayama di antara para martir itu. Namun, waktu itu, Vatikan tidak mengakuinya sebagai martir. Jini, dengan evolusi teologi kemartiran, Kongregasi Vatikan untuk Penggelaran Kudus telah menunjukkan kesediaan untuk menerima Takayama sebagai martir.
Dalam sidang itu, konferensi waligereja juga memilih ketua, wakil presiden, dan anggota dari berbagai komisi Konferensi Waligereja Jepang yang baru.
Ketuanya yang baru adalah Uskup Agung Osaka Mgr Jun Ikenaga SJ dan wakil ketua adalah Uskup Agung Tokyo Mgr Okada Takeo. Mereka akan memimpin konferensi itu dalam masa bakti tiga tahun, yang dimulai bulan Juni.