
Umat Katolik stasi St. Fransiskus Assisi di Segedong, Kalimantan Barat, untuk pertama kali sejak inagurasi bulan Oktober tahun lalu merayakan Minggu Palma, 28 Maret, di gereja mereka
Karena baru pertama kali, umat yang berjumlah sekitar 70 orang tampak kebingungan.
Bahkan tidak satupun dari mereka yang membawa daun palem, dan juga tidak banyak yang bisa menyanyikan lagu pada saat prosesi, kecuali Pius Halikai, seorang katekis setempat.
Hal ini menurut Halikai bisa dipahami karena “umat sedang bertumbuh, bahkan banyak yang tidak tahu membuat tanda salib.’
Gereja stasi ini dibangun oleh Hermanto pimpinan Persekutuan Doa Usahawan Katolik Indonesia (Perduki) Keuskupan agung Pontianak di atas tanah yang diberikan umat Katolik setempat.
Orang-orang dari Sri Medan, yang ditempuh dengan perahu selam satu jam, juga menghadiri misa di gereja ini.
Florentinus Achmad, pemuka Katolik dari Sri Medan mengatakan sangat senang dengan adanya misa secara regular di sana.
“Karena kalau tidak, semakin banyak orang Katolik yang akan masuk Protestan,” katanya.
Pastor Andrei Kurniawan, OP yang memimpin misa mengatakan kekurangan imam serta antusiasme umat membuat dia tergerak dan bersedia memimpin upacara Pekan Suci di sana.
“Kita harus menemani mereka dalam kegiatan harian mereka sehingga semakin banyak orang datang ke gereja,” katanya.