
Dalam pesan Paskah saat Pakistan menghadapi berbagai bencana, pemimpin-pemimpin Gereja di Keuskupan Agung Lahore, Pakistan bagian timur, mendorong umat Katolik untuk membawa kabar gembira bagi “warga negara yang diteror.”
Pekan Suci tahun ini dibuat untuk menanggapi kemerosotan akibat “perang melawan teror” dan berbagai bom bunuh diri.
Banyak karyawan dari sejumlah lembaga Katolik tewas dan banyak yang kehilangan rumah mereka dalam sejumlah ledakan bom belakangan ini di berbagai tempat di Pakistan.
Selain itu, terjadi kekurangan listrik paling parah yang belum pernah dialami Pakistan sebelumnya. Banyak karyawan di berbagai sekolah dan rumah sakit Katolik mengatakan kepada UCA News, ini sangat berdampak pada operasi mereka.
Yang paling buruk, orang miskin semakin sulit memenuhi kebutuhan pokok mereka setiap hari karena harga barang melambung.
Dengan semua krisis yang mencengkeram Pakistan saat ini, perayaan Paskah di berbagai paroki dirayakan secara sederhana.
Di seluruh Pakistan, prosesi Minggu Palem dibatasi dan hanya diadakan di pekarangan gereja.
Uskup Auksilier Lahore Mgr Sebastian Shah meminta umat untuk tetap bertahan pada iman mereka akan Allah di tengah kondisi bagaikan dalam keadaan perang di Pakistan ini.
Dalam edisi 16-30 Maret Katolik Naqeeb, majalah dua bulanan berbahasa Urdu dari Keuskupan Agung Lahore, prelatus itu menulis, “Cobalah kita cermati, bagaimana kita bisa menjadi sumber kabar gembira bagi orang-orang yang khawatir sekarang ini saat kita merayakan pesta kebangkitan Yesus yang mulia di tahun 2010 ini. Dewasa ini, setiap orang merasa tidak aman dan khawatir.”
Uskup Shah mencatat bahwa “orang merasa tidak aman di lingkungan dan keluarga mereka di tengah harga yang meroket, pengangguran, serangan bunuh diri, dan kekurangan bahan kebutuhan pokok.”
Dia mendorong orang Kristen untuk menjadi “pembawa kabar gembira” bagi mereka yang sedih, tertekan, dan diteror.
“Tidak peduli apapun keadaannya, jagalah iman Anda akan Allah dan perhatikanlah bahwa kehidupan merupakan fokus penting dalam masyarakat yang putus asa.”
Uskup Agung Lahore Mgr Lawrence J. Saldanha menulis sebuah pesan Paskah serupa untuk majalah Katolik itu berjudul Light in Darkness (Terang dalam Kegelapan).
“Kami tengah melewati masa gelap dan sulit,” tulisnya. “Orang menjadi takut dan sangat khawatir terhadap berbagai ledakan bom bunuh diri dan akibat-akibatnya.”
“Pesta Paskah membawa pesan harapan dan kegembiraan di tengah situasi sulit ini. Dalam kebangkitan-Nya dari kematian, kita merayakan kemenangan terang atas kegelapan, hidup atas kematian, dan pengharapan atas keputusasaan.”
Vikjen Pastor Andrew Nisari mengatakan, persiapan Paskah di keuskupan agung itu rasa sangat serius.
“Doa-doa diselenggarakan seperti biasa, tetapi kegemerlapan dan keramaian … tidak ada. Misalnya pesta Paskah besar-besaran, yang biasa diadakan di pekarangan Katedral Hati Kudus Yesus, tidak diselenggarakan.”
- UCA News