
Banyak umat mengaku dosa pada masa Natal dan Pekan Suci, namun kualitas pengakuan dosa mereka jauh dari memadai, demikian sejumlah imam di Goa.
“Ada perbedaan besar antara mendengar pengakuan dosa pada masa Natal dan Paskah dengan pengakuan dosa di saat retret,” kata Pastor Jesuino Almeida, seorang bapa pengakuan yang dicari-cari di Negara Bagian Goa di India bagian barat itu.
Umat Katolik sibuk dengan “pengakuan tergesa-gesa” sebelum Paskah dan Natal terutama untuk memenuhi kewajiban, bukan karena “pertobatan yang sejati,” katanya kepada UCA News.
Sebaliknya, dalam retret, orang mengaku dosa setelah berjam-jam tenggelam dalam doa dan introspeksi diri di depan Sakramen Mahakudus dan mendengarkan berbagai pengarahan. “Ini bisa menciptakan perubahan nyata dalam diri mereka,” lanjut Pastor Almeida.
Pastor Aleixo Gracias, yang mengajar teologi moral di seminari setempat, mengatakan, umat Katolik tidak banyak tahu tentang kasih karunia Allah dalam pengakuan dosa yang sering dilakukan.
Natal dan Pekan Suci merupakan satu-satunya kesempatan yang dimanfaatkan oleh sejumlah imam untuk menekankan pembaruan batin. Pada kesempatan lain, mereka menekankan amal dan kasih, tapi mengabaikan Sakramen Rekonsiliasi, lanjut Pastor Gracias.
Pastor Vasco de Rego SJ mengatakan sikap beberapa imam juga turut membuat umat berpaling dari pengakuan dosa. Sakramen perdamaian dan sukacita ini menjadi sedemikian menakutkan bagi sebagian umat, katanya, karena bagian disipliner dari sakramen ini membuat umat takut dan malu.
Ada sejumlah kasus. Orang-orang yang merasa seperti dihukum dalam pengakuan dosa “tidak mau mengadakan pengakuan dosa lagi karena takut akan laku silih (penetensi) yang diberikan imam.” Dia juga menyesal bahwa sejumlah imam enggan untuk duduk di kamar pengakuan untuk mendengarkan pengakuan dosa.
Pastor Rego mengatakan, para imam mestinya tampil ”dengan hati Yesus dan hati Allah Bapa kita yang penuh belas kasihan.” Kristus melembagakan Sakramen Rekonsiliasi karena manusia “butuh kepastian akan pengampunan ilahi,” jelasnya.
Pengakuan dosa akan menciptakan perubahan yang diinginkan hanya jika imam menolong umat yang mengadakan pengakuan dosa untuk bertemu dengan Kristus dalam sakramen tobat, serta disiplin yang keras. “Katekese kita gagal karena penekanan terlalu diberikan pada aspek disiplin,” jelas Pastor Rego.