
Sebuah tim yang terdiri dari frater-frater Dominikan dan mahasiswa Katolik akan menerbitkan buku yang memuat tentang sumbangsih salah satu tokok Katolik yang pernah menjadi gubernur provinsi Kalimantan Barat.
Ide menulis buku ini muncul setelah ditemukan beberapa tulisan tangan (alm) Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray di bekas rumahnya, sekarang menjadi St. Dominic House.
Rencannya buku tersebut terbit pada bulan Mei mendatang.
“Kami ingin agar siswa-siswa SD maupun SMU mendapatkan buku pegangan yang tepat tentang sejarah Kalimantan Barat yang sesungguhnya,” kata Pastor Andrei Kurniawan, OP kepada UCA News.
Pada tanggal 26 Maret lalu, tim tersebut berbicara dengan dengan Uskup Agung Pontianak Mgr. Hieronymus Bumbun OFMCap.
“Oevaang Oeray seorang tokoh awam yang patut diteladani. Orang awam barangkali harus mengikuti contoh hidup beliau dalam memajukan propinsi, secara khusus untuk suku Dayak,” kata Mrg. Hieronymus.
Lahir tanggal 18 Agustus 1922 di Tanjungkuda, Oevaang Oeray pernah belajar di Seminari Menengah St. Paul, Nyarumkop.
Dia memimpin kabupaten Sintang (1955-1959), gubernur Kalimantan Barat (1960-1966), dan menjadi anggota DPR (1977-1982) sebelum akhirnya meninggal dunia 17 Juli 1986 di Pontianak.
Uskup Pontianak menggambarkan Oeray sebagai individu yang “temperamental dan tegas, yang berjuang untuk kebenaran, dan taat hukum.’
Menurut Mgr Hieronymus, Oeray telah membantu misionaris Belanda mendapatkan kewarganegaraan Indonesia, serta memajukan layanan kesehatan dan pendidikan.
Dia juga telah mempertahankan rumah sakit dan sekolah misi sebagai aset gereja ketika pemerintah setempat menasionalisasi semua bangunan Belanda setelah kemerdekaan RI.
Ketika seminari menengah membutuhkan enam ton beras tiap bulan, Oeray membantu ‘karena dia tidak mau ada seminaris kelaparan dan anak-anak harus putus sekolah karena kekurangan makanan,’ kenang Mgr Hiernonymus.
Dia menampik tuduhan bahwa Oeray seorang komunis. “Salah besar! Betul bahwa dia anggota Partindo saat itu, tapi saya kira dia bukan penganut ideologi komunis, karena dia seorang Katolik yang taat.’
Hugo Mungo, seorang protestan, yang dianggap sebagai ajudan Oeray, mengatakan “Oevaang Oeray sangat setia, rajin berdoa dan rajin ke gereja.”
Menurut Hugo, keadaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan suku Dayak yang terpuruk telah menggerakan hati Oevaang Oeray.
Akhir tahun 1950an dan awal 1960an dia mencoba memperbaiki drajat hidup mereka dengan mengangkat 30 lulusan SD dari suku Dayak untuk memimpin beberapa kecamatan, karena sulit untuk menemukan lulusan SMP waktu itu.
“Lima dari delapan camat di propinsi ini adalah orang Dayak,” kata Hugo
Dalam pandangan dia, penempatan orang-orang dayak untuk beberapa posisi penting, merupakan hal terbaik yang pernah dilakukan Oevaang Oeray dalam memajukan suku Dayak.
Dia telah berhasil memberdayakan orang Dayak, kebanyakan orang Katolik, untuk percaya diri dan membuktikan kemampuan mereka, lanjutnya.