
Uskup-uskup Katolik di Sri Lanka, yang khawatir bahwa kekerasan bisa saja terjadi dalam pemilihan umum mendatang, mengutuk serangan penuh kekerasan terhadap salah satu perusahaan media terkemuka di Sri Lanka. Mereka menyebut serangan itu “perilaku durhaka.”
Sekelompok demonstran melempari kantor Sirasa Media dengan batu sebelum menyerang bangunan di Kolombo itu pada 22 Maret. Serangan, yang melukai empat orang itu, dimaksud untuk memprotes perusahaan itu yang mensponsori sebuah konser yang akan menampilkan Akon, penyanyi R&B keturunan Amerika-Senegala.
Sexy Chick, sebuah video dari penyanyi itu, berisi gambar perempuan-perempuan berpakaian minim yang menari di depan arca Buddha. Video itu menimbulkan kemarahan di Sri Lanka. Umat Buddha mengatakan, video itu mencemarkan agama mereka.
Menanggapi kemarahan publik, penyanyi itu mengatakan, “Saya tidak sadar kalau arca itu ada dalam video tersebut. Saya tidak pernah menyinggung atau menodai agama atau keyakinan agama siapapun. Saya sendiri adalah seorang spiritual, jadi saya bisa mengerti mengapa mereka tersinggung, tapi kekerasan tidak pernah menjadi jawaban dan saya kecewa.”
Penyanyi R&B itu kemudian menolak masuk ke Sri Lanka setelah protes di ibukota itu berubah menjadi kerusuhan dan konsernya yang rencananya digelar pada 24 April akhirnya dibatalkan.
Dalam sebuah pernyataan, para uskup menyatakan terkejut atas serangan terhadap Sirasa Media, yang mereka anggap sebagai suara untuk kelompok oposisi. Para uskup menyebut kekerasan itu “perilaku durhaka yang mengakibatkan kehancuran properti milik bersama,” dan ini merupakan contoh “buruk” bagi generasi muda.
“Kami mengimbau semua pihak yang bertanggung jawab memelihara hukum dan ketertiban untuk melaksanakan tanggung jawabnya tanpa mempedulikan apapun afiliasi, politik atau apapun lainnya. Para pelaku kekerasan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” demikian pernyataan itu.
Para uskup mencatat, serangan itu terjadi menjelang pemilihan umum pada 8 April dan bersikeras bahwa tindak kekerasan itu hendaknya tidak menghalangi hak masyarakat untuk memberi suaranya.
“Kami tegaskan lagi, agar hak setiap orang untuk memilih itu dapat diwujudkan, suasana saling menghormati sangat diperlukan, yakni kebebasan hati nurani, non-kekerasan, dan keadilan. Ini harus dipertahankan dengan konsekuensi apapun, sehingga pemilihan umum mendatang dapat berjalan dengan bebas dan adil,” tulis pernyataan itu.
Asisten sekjen konferensi waligereja, Pastor Leopold Ratnasekara, mengatakan kepada UCA News pada 30 Maret, pesan ini harus disebarluaskan karena protes itu telah menjadi serangan terhadap media dan serangan terhadap “nilai-nilai moral demokrasi.”
Lebih dari 7.500 kandidat tengah bersaing untuk merebut 225 kursi di parlemen Sri Lanka.