
Gereja Taiwan perlu lebih lantang menyuarakan masalah dan penyakit sosial guna menciptakan perubahan bertahap dalam sikap masyarakat, kata seorang sarjana Katolik.
“Di Taiwan, suara Gereja disegani. Maka bungkam berarti menyia-nyiakan pengaruh,” kata Richard Lee Chia-tung, mantan rektor Providence University yang dikelola pihak Katolik, kepada UCA News.
Lee, seorang profesor teknik dan penulis populer, menantang sikap bungkam Gereja terhadap berbagai isu sosial, termasuk perdebatan tentang penghapusan hukuman mati baru-baru ini.
Dalam edisi terbaru Catholic Weekly dari Keuskupan Agung Taipei, Lee menulis sebuah komentar tentang hukuman mati, yang sering Gereja tanggapi dengan berbicara tentang pengampunan. “Pada saat kritis ini, Gereja punya kesempatan baik [untuk bersuara],” katanya, “namun Gereja tetap bungkam.”
Dia memahami bahwa tidaklah mudah bagi masyarakat Taiwan untuk melepaskan konsep “hidup ganti hidup” dalam semalam. Namun, “tidak seorangpun akan mengatakan bahwa ajaran Yesus tentang pengampunan itu salah,” tegasnya.
Lisa Shieh, seorang jurnalis veteran, mengatakan kepada UCA News bahwa dia telah membahas masalah hukuman mati dengan beberapa pemimpin Gereja lokal. Menurut mereka, katanya, Gereja masih menolak hukuman mati, namun mereka ragu apakah pemerintah mampu memberi solusi alternatif yang memadai.
Para pemimpin Gereja juga mengungkapkan keengganan mereka untuk berpihak atau mengobarkan isu politik, kata perempuan awam Katolik itu.
Penghapusan hukuman mati masih menimbulkan debat hangat di Taiwan setelah Menteri Kehakiman Wang Ching-feng mengakui pada 10 Maret bahwa dia menolak menandatangani perintah eksekusi apapun untuk seorang yang terkena hukuman mati.
Lee mengatakan kepada UCA News bahwa Gereja juga bungkam terhadap banyak isu. Kita tidak pernah mendengar Gereja menyuarakan sikapnya terhadap film keras dan cabul, dan permainan komputer yang membanjiri masyarakat,” katanya.
Bahwa Gereja terlibat dalam masalah politik, katanya, itu umum terjadi di seluruh dunia. ”Jika [Gereja Taiwan] tidak berani mengatakan apapun karena politik, maka Gereja tidak perlu mengatakan sepatah katapun di masa depan,” katanya berdalih.
Menurut Lee, kekerasan dan kemerosotan moral dalam masyarakat Barat itu terjadi karena tidak ada hukuman yang berat ketika terjadi norma-norma sosial yang buruk.
Dengan mencontohkan Amerika Serikat di mana seorang gadis diperkosa oleh geng sementara 20 teman kelasnya hanya berdiri dan menonton, dia mengatakan, ini mencerminkan kemerosotan etika dan nilai yang mengkhawatirkan.
Berbagai penyakit sosial telah “merusak manusia secara serius.” Apa yang dikatakan Gereja “tidak perlu terlalu hati-hati, tapi perlu tepat waktu,” kata Lee.