
Ingatannya kuat dan bicaranya lantang. Dialah Romo Hans Kung, pastor berumur 82 tahun yang dikenal berseberangan dengan Gereja Katolik Roma. Hingga hari ini, ia tetap menjadi kritikus yang gigih terhadap kewibawaan Paus, yang disebutnya sebagai ciptaan manusia dan bukan sesuatu yang ditetapkan oleh Allah.
Lewat bukunya, Infallible? An Inquiry, Kung menolak doktrin Infallible Paus. Karena itu, izin mengajarnya sebagai seorang teolog utusan Vatikan dicabut. Meski begitu, Profesor Kung tetap mengajar teologi ekumenis di Universitas Tübingen, Jerman, hingga pensiun pada 1996. Ia pun tetap menjadi seorang imam Katolik Roma.
“Saya dikaruniai akal-pikiran, dan atas restu Tuhan, saya diberikan keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit,” katanya kepada TEMPO di Jakarta, Senin lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Paus Benediktus mesti bertanggung jawab atas skandal pelecehan seks di sejumlah gereja di dunia.
Kung dan Paus Benediktus sejatinya adalah kawan lama. Pada 1962, Kung dan Kardinal Josep Ratzinger (Paus Benediktus XVI) diangkat menjadi peritus oleh Paus Yohanes XXIII. Keduanya bertugas sebagai penasihat ahli teologi bagi para anggota dari Konsili Vatikan II hingga selesai pada 1965.
“Anda tahu kami memiliki pandangan yang berbeda,” ujarnya menanggapi hubungan yang tak sedap selama ini dengan Takhta Suci Vatikan. Namun, pada 2005, keduanya terlibat dalam suatu diskusi bersahabat tentang teologi Katolik dalam sebuah makan malam bersama, sesuatu yang mengejutkan sejumlah pengamat.