
Gereja tengah membantu perempuan-perempuan muda dari keuskupan-keuskupan di seluruh Myanmar untuk mengenal dan memperhatikan anak-anak di asrama-asrama yang dikelola Gereja.
Lucrecia Naw Kyu Khin, 33, koordinator program dari Komisi Pendidikan dari konferensi waligereja, mengatakan kepada UCA News: “Kami memulai program ini karena kami ingin perempuan muda bertanggung jawab atas pembinaan integral anak-anak dan remaja.”
Peserta angkatan kedua — 22 perempuan muda — saat kini tengah mengikuti peogram Formation of Educators for Boarding Houses di Yangon. Program ini dimulai bulan Juli 2009 dan akan berakhir bulan Mei tahun ini.
Mereka belajar berbagai keterampilan terkait dengan komunikasi, disiplin, pemecahan masalah, bercerita, seni dan kerajinan, matematika, musik, dan pendidikan iman.
Program ini juga mencakup sebuah komponen praktis yang menolong mereka untuk belajar memperhatikan anak-anak di keuskupan-keuskupan mereka sendiri.
Seorang mahasiswi, Catherine Nang Seng, 22, dari Keuskupan Myitkyina, mengatakan kepada UCA News: “Saya ikut program ini karena saya melihat perlunya meningkatkan perhatian yang lebih bermutu di berbagai asrama yang dikelola Gereja.
“Dalam lokakarya ini, saya sadar betapa banyak banyak anak asrama haus akan kasih, terutama anak-anak yatim. Jika kita benar mengajar dan memperhatikan mereka dengan penuh kasih, hidup mereka pasti akan menjadi lebih baik.”
Para guru belajar berkomunikasi dengan anak-anak
Perpetua Mi Nge, 30, dari Keuskupan Agung Taunggyi, yang lulus tahun lalu, mengatakan bahwa sebelum mengikuti program ini, dia telah bekerja dengan anak-anak di sebuah asrama.
“Jadi ini sangat membantu saya ketika para suster Canossian mulai kursus ini,” kata Mi Nge.
“Sebelum mengikuti kursus ini, saya biasa menghukum anak-anak yang melakukan kesalahan atau bertingkah kurang sopan tanpa berusaha untuk mencari tahu mengapa hal-hal itu mereka lakukan,” katanya.
“Kini, kami berusaha mendekati mereka dengan penuh kasih dan menjalin hubungan baik dengan mereka agar bisa tahu masalah mereka dan apa yang benar-benar mereka pikirkan. Mereka dapat membicarakannya dengan kami kapan saja dan kami siap untuk mendengarkan mereka.”
Aye Mary 24, seorang mahasiswi dari Keuskupan Pekhon, mengatakan, dia tahu bahwa banyak anak asrama mengalami banyak masalah emosional, terutama mereka yang tidak lagi memiliki orangtua.
“Dengan mengasihi mereka, mereka [semakin mau] menaati peraturan dan menghormati orang yang lebih tua,” katanya.
Naw Kyu Khin mengatakan kepada UCA News bahwa “di masa depan, kami akan menyeleksi peserta yang menonjol dari program ini dan membantu mereka untuk menjadi pelatih sehingga mereka dapat melatih perempuan-perempuan muda lainnya di keuskupan mereka, ketimbang mendatangkan mereka ke Yangon.”